Hola, holaaaaa... happy
weekend gaes! Kali ini saya mau posting salah satu file yang sempat terabaikan
beberapa bulan terakhir di folder leptop. File ini adalah salah satu cerpen
yang pernah saya ikutkan dalam lomba online, dan bisa ditebak –yah, belum menang,
alias KALAH- Oleh sebabnya saya mau posting nih cerita disini, biar nggak
ngungkit-ngungkit kekalahan masa lalu aja. Itung-itung juga buat ngurangin
file-file yang nggak guna. Toh, walaupun saya menyimpannya lama-lama, nih
cerpen nggak bakal bertelur, apalagi tambah bagus. So, buang kesini aja buat
bacaan yang mau baca. Walaupun nyatanya nanti nggak ada yang baca hmm -_-
Okelah, daripada kebanyakan
mbacot nggak penting. Check this story.... *sssst, sebagai info tambahan, ini
temanya LDR looooo*
Jeng... jeng...
Kekasihku, Sam
Pagi ini, entah kenapa
perasaan resah menghinggapi pikiranku. Semalam, aku memimpikannya. Iya,
seseorang yang entah masih menganggapku ada atau tidak. Seseorang yang sudah 9
bulan terakhir tidak kulihat garis wajahnya. Seseorang yang paras wajahnya
masih melekat erat dalam memoriku. Dia kekasihku, entah dia masih beranggapan
iya atau tidak.
Aku masih terduduk dalam bibir
ranjangku, kuingat kembali kata-katanya yang manis. Tiba-tiba handphone yang
kuletakkan di atas meja belajarku bergetar dengan kerasnya dan membuyarkan
lamunanku.
‘selamat pagi! Jangan lupa
sarapan, aku tak ingin maag mu kambuh lagi’ sudah kuduga, ia selalu mengatakan
hal itu setiap hari. Kadang aku merasa sangat lelah dengan sikapnya. Tak
inginkah dia menemuiku? Atau sekedar berbincang denganku?
Hari ini aku tak membalas
ucapan manisnya. Aku sangat berharap ia akan menelfonku walau hanya sekedar
untuk bilang ‘halo’. Lima belas menit ku menanti telfon darinya, namanya tak
juga muncul dalam layar handphone-ku. Aku kesal, kubanting benda berbentuk
persegi panjang itu ke kasur dan aku segera keluar kamar untuk mencari udara
segar.
Tiba-tiba pembantu rumahku
menghampiriku dan mengatakan ada kiriman surat untukku. Tentu saja hal itu
membuatku mengerutkan kening dan bertanya-tanya siapa yang mengirimiku surat.
Aku tak pernah berkirim surat dengan siapapun sebelumnya.
Karena rasa penasaran yang
tinggi, segera kubuka surat itu. Begitu terkejutnya aku saat kulihat pengirim
surat itu adalah Sam. Pria yang baru saja membuatku naik darah karena tak
kunjung menelfonku. Pria yang baru saja hadir dalam mimpiku semalam.
Segera kubuka surat itu. Di
dalam amplop berwarna coklat itu kutemukan beberapa lembar fotonya yang tampak
begitu berbeda seperti saat terakhir ia tersenyum kepadaku. Entah mengapa,
hatiku dibuat luluh oleh senyum khas yang dihiasi oleh lesung pipinya yang
manis. Lalu, kutemukan juga sebuah kertas putih yang dilipat menjadi dua
bagian. Betapa terkejutnya aku saat dalam kertas putih itu terdapat tulisan
tangan yang sangat kukenal, tulisan tangan Sam.
‘Maaf jika selama ini
membuatmu khawatir, andai kau tahu namamu selalu tertulis dalam hatiku. Maaf
jika selama ini tak pernah ada waktu untuk menatap senyummu. Datanglah ke taman
kota hari Jum’at jam tiga sore. Akan kuberikan jawaban atas kekhawatiranmu
selama ini. Aku yang selalu menyayangimu, Sam’
Kira-kira begitulah ringkasan kata-kata
dalam sepucuk surat yang baru saja ia kirim untukku. Sebuah kalimat singkat
yang mampu membuatku memaafkannya walaupun setelah berbulan-bulan tak melihat
wajahnya.
***
Sore itu, sesuai permintaan
Sam dalam sepucuk suratnya aku pergi ke taman kota. Sekitar lima belas menit
aku menunggu, Sam tak kunjung datang. Untuk kesekian kalinya, aku dibuat kesal
olehnya. Walaupun aku tahu dia memang paling hobby untuk datang terlambat dalam
situasi apapun.
Aku hampir saja meluapkan
kekesalanku dan berencana kembali kerumah saat sosok pria jangkung bermata
coklat berdiri dihadapanku. Menatap wajahku dengan senyumnya yang masih terekam
dalam memori otakku.
Aku belum sempat berkata
apa-apa saat ia mulai menekuk salah satu lututnya ke tanah. Lalu ia berkata
“Will you marry me?” dan menyodorkann dua buah cincin tepat dihadapanku.
Sungguh, aku tak tahu ini kali keberapa ia membuat hatiku luluh dan memaksaku
memaafkan kesalahannya.
Bagaimana mungkin seorang yang
cuek seperti Sam bisa melakukan kejutan sesukses ini? Sungguh, aku sangat
terkejut ia mampu melakukannya. Segera kutarik tangannya lalu kupeluk tubuhnya
yang jangkung. Aku merasakan kehangatan disana. Aku mencintainya walau jarak
yang sangat panjang. Aku mencintainya seperti dia mencintaiku. Dan aku menjaga
cintanya seperti dia menjaga cintaku. Karena aku percaya padanya seperti dia
percaya padaku. Dan meskipun beberapa bulan yang lalu kami menginjakkan tanah
di tempat yang berbeda, tetapi kami masih dapat menatap langit yang sama.
*Tamat*
Nah, itu tadi cerpennya. Buat yang
mau ngasih kritik dan saran bisa dilontarkan di comment box yah. Nanti saya
tangkap, demi kemajuan penulisan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Thank
you so much yang udah sisa in waktu lima menit buat baca tulisan ini.
*bungkukin badan*

alaaayyy wkwk
BalasHapusHaha
BalasHapus