Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut: Cerpen (yang sempet gagal): Kekasihku, Sam

Sabtu, 25 Oktober 2014

Cerpen (yang sempet gagal): Kekasihku, Sam


Hola, holaaaaa... happy weekend gaes! Kali ini saya mau posting salah satu file yang sempat terabaikan beberapa bulan terakhir di folder leptop. File ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya ikutkan dalam lomba online, dan bisa ditebak –yah, belum menang, alias KALAH- Oleh sebabnya saya mau posting nih cerita disini, biar nggak ngungkit-ngungkit kekalahan masa lalu aja. Itung-itung juga buat ngurangin file-file yang nggak guna. Toh, walaupun saya menyimpannya lama-lama, nih cerpen nggak bakal bertelur, apalagi tambah bagus. So, buang kesini aja buat bacaan yang mau baca. Walaupun nyatanya nanti nggak ada yang baca hmm -_-

Okelah, daripada kebanyakan mbacot nggak penting. Check this story.... *sssst, sebagai info tambahan, ini temanya LDR looooo*

Jeng... jeng...

Kekasihku, Sam

Pagi ini, entah kenapa perasaan resah menghinggapi pikiranku. Semalam, aku memimpikannya. Iya, seseorang yang entah masih menganggapku ada atau tidak. Seseorang yang sudah 9 bulan terakhir tidak kulihat garis wajahnya. Seseorang yang paras wajahnya masih melekat erat dalam memoriku. Dia kekasihku, entah dia masih beranggapan iya atau tidak.

Aku masih terduduk dalam bibir ranjangku, kuingat kembali kata-katanya yang manis. Tiba-tiba handphone yang kuletakkan di atas meja belajarku bergetar dengan kerasnya dan membuyarkan lamunanku.

‘selamat pagi! Jangan lupa sarapan, aku tak ingin maag mu kambuh lagi’ sudah kuduga, ia selalu mengatakan hal itu setiap hari. Kadang aku merasa sangat lelah dengan sikapnya. Tak inginkah dia menemuiku? Atau sekedar berbincang denganku?

Hari ini aku tak membalas ucapan manisnya. Aku sangat berharap ia akan menelfonku walau hanya sekedar untuk bilang ‘halo’. Lima belas menit ku menanti telfon darinya, namanya tak juga muncul dalam layar handphone-ku. Aku kesal, kubanting benda berbentuk persegi panjang itu ke kasur dan aku segera keluar kamar untuk mencari udara segar.

Tiba-tiba pembantu rumahku menghampiriku dan mengatakan ada kiriman surat untukku. Tentu saja hal itu membuatku mengerutkan kening dan bertanya-tanya siapa yang mengirimiku surat. Aku tak pernah berkirim surat dengan siapapun sebelumnya.

Karena rasa penasaran yang tinggi, segera kubuka surat itu. Begitu terkejutnya aku saat kulihat pengirim surat itu adalah Sam. Pria yang baru saja membuatku naik darah karena tak kunjung menelfonku. Pria yang baru saja hadir dalam mimpiku semalam.

Segera kubuka surat itu. Di dalam amplop berwarna coklat itu kutemukan beberapa lembar fotonya yang tampak begitu berbeda seperti saat terakhir ia tersenyum kepadaku. Entah mengapa, hatiku dibuat luluh oleh senyum khas yang dihiasi oleh lesung pipinya yang manis. Lalu, kutemukan juga sebuah kertas putih yang dilipat menjadi dua bagian. Betapa terkejutnya aku saat dalam kertas putih itu terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal, tulisan tangan Sam.

‘Maaf jika selama ini membuatmu khawatir, andai kau tahu namamu selalu tertulis dalam hatiku. Maaf jika selama ini tak pernah ada waktu untuk menatap senyummu. Datanglah ke taman kota hari Jum’at jam tiga sore. Akan kuberikan jawaban atas kekhawatiranmu selama ini. Aku yang selalu menyayangimu, Sam’

Kira-kira begitulah ringkasan kata-kata dalam sepucuk surat yang baru saja ia kirim untukku. Sebuah kalimat singkat yang mampu membuatku memaafkannya walaupun setelah berbulan-bulan tak melihat wajahnya.

***
Sore itu, sesuai permintaan Sam dalam sepucuk suratnya aku pergi ke taman kota. Sekitar lima belas menit aku menunggu, Sam tak kunjung datang. Untuk kesekian kalinya, aku dibuat kesal olehnya. Walaupun aku tahu dia memang paling hobby untuk datang terlambat dalam situasi apapun.

Aku hampir saja meluapkan kekesalanku dan berencana kembali kerumah saat sosok pria jangkung bermata coklat berdiri dihadapanku. Menatap wajahku dengan senyumnya yang masih terekam dalam memori otakku.

Aku belum sempat berkata apa-apa saat ia mulai menekuk salah satu lututnya ke tanah. Lalu ia berkata “Will you marry me?” dan menyodorkann dua buah cincin tepat dihadapanku. Sungguh, aku tak tahu ini kali keberapa ia membuat hatiku luluh dan memaksaku memaafkan kesalahannya.

Bagaimana mungkin seorang yang cuek seperti Sam bisa melakukan kejutan sesukses ini? Sungguh, aku sangat terkejut ia mampu melakukannya. Segera kutarik tangannya lalu kupeluk tubuhnya yang jangkung. Aku merasakan kehangatan disana. Aku mencintainya walau jarak yang sangat panjang. Aku mencintainya seperti dia mencintaiku. Dan aku menjaga cintanya seperti dia menjaga cintaku. Karena aku percaya padanya seperti dia percaya padaku. Dan meskipun beberapa bulan yang lalu kami menginjakkan tanah di tempat yang berbeda, tetapi kami masih dapat menatap langit yang sama.

*Tamat*

Nah, itu tadi cerpennya. Buat yang mau ngasih kritik dan saran bisa dilontarkan di comment box yah. Nanti saya tangkap, demi kemajuan penulisan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Thank you so much yang udah sisa in waktu lima menit buat baca tulisan ini. 

*bungkukin badan*

2 komentar: