Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut: Rel Kereta Terakhir

Rabu, 29 Oktober 2014

Rel Kereta Terakhir


Terik matahari dan suara gesekan rel kereta api menyambutku serasa menyayat hati. Stasiun ini akan menjadi gerbang terakhir perjumpaan kita. Kita? Bahkan aku dan kamu belum layak disebut kita. Aku tetap aku, dan kau tetap kau. Selamanya seperti itu.

Ada sedikit rasa penyesalan, kecewa, dan perih saat harus berpisah dalam keadaan seperti ini. Aku belum sempat mengucapkan apa yang ingin ku ucap padamu, semuanya. Aku masih ingin menunggu apa yang akan kau ucap padaku bila aku masih bertahan disini untuk beberapa hari lagi. Aku, sejujurnya tak suka menyembunyikan sesuatu. Tapi untuk hal ini biarlah aku sendiri yang tahu.

Menunggumu terlalu lelah. Mengagumimu terlalu sakit. Bertahan denganmu membuatku rapuh. Jadi, untuk apa aku bertahan?

Nanar matamu sungguh menyedihkan. Kenapa kau harus seperti ini saat aku hendak pergi. Kenapa kau tak coba memahaminya. Kenapa?

Semuanya sudah terlambat. Kereta terakhir sudah datang, kulangkahkan kakiku masuk kedalam gerbong kedua. Seutas senyum yang terkesan dipaksakan kuukir untukmu. Kulambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun dan menyisakan denting yang memekakkan telinga. Kau masih disana, melambaikan sebelah tangan dan tersenyum sedih.

Inilah akhirnya. Saat kau tak kunjung datang, maka aku yang pergi. Hati ini sudah terlalu lelah untuk mencintai seorang diri. Aku tak pernah membencimu. Selamanya, aku mengagumimu lewat do’a dan sujudku pada Yang Maha Kuasa.

***

Cerita ini diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar