Terik
matahari dan suara gesekan rel kereta api menyambutku serasa menyayat hati.
Stasiun ini akan menjadi gerbang terakhir perjumpaan kita. Kita? Bahkan aku dan
kamu belum layak disebut kita. Aku tetap aku, dan kau tetap kau. Selamanya
seperti itu.
Ada
sedikit rasa penyesalan, kecewa, dan perih saat harus berpisah dalam keadaan
seperti ini. Aku belum sempat mengucapkan apa yang ingin ku ucap padamu,
semuanya. Aku masih ingin menunggu apa yang akan kau ucap padaku bila aku masih
bertahan disini untuk beberapa hari lagi. Aku, sejujurnya tak suka
menyembunyikan sesuatu. Tapi untuk hal ini biarlah aku sendiri yang tahu.
Menunggumu
terlalu lelah. Mengagumimu terlalu sakit. Bertahan denganmu membuatku rapuh.
Jadi, untuk apa aku bertahan?
Nanar
matamu sungguh menyedihkan. Kenapa kau harus seperti ini saat aku hendak pergi.
Kenapa kau tak coba memahaminya. Kenapa?
Semuanya
sudah terlambat. Kereta terakhir sudah datang, kulangkahkan kakiku masuk kedalam
gerbong kedua. Seutas senyum yang terkesan dipaksakan kuukir untukmu.
Kulambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Kereta
mulai berjalan meninggalkan stasiun dan menyisakan denting yang memekakkan
telinga. Kau masih disana, melambaikan sebelah tangan dan tersenyum sedih.
Inilah
akhirnya. Saat kau tak kunjung datang, maka aku yang pergi. Hati ini sudah
terlalu lelah untuk mencintai seorang diri. Aku tak pernah membencimu.
Selamanya, aku mengagumimu lewat do’a dan sujudku pada Yang Maha Kuasa.
***
Cerita
ini diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet

Tidak ada komentar:
Posting Komentar