Assalamu’alaikum wr.wb
Hmm, hmm. Saya hadir lagi, mengganggu
ketentraman jiwa kalian semua. Sekedar curhat dan menyampaikan apa-apa yang
telah terjadi di lingkungan sekitar saya.
Sesuai judulnya, bisa ditebak saya akan
berbicara tentang sebuah hubungan. Yang dekat terasa jauh, dan yang jauh terasa
dekat. Ini teman bukan temannya LDR, loh. Benar-benar bukan.
Suatu ketika saya termenung dipojok
kamar, membiarkan notebook acer menyala didepan saya, meraung-raung minta
diperhatikan, dengan terpaksa saya menyentuh tiap tuts keyboard yang terlihat
kotak-kotak, nampak sixpack *abaikan bagian ini*
Saya mulai bercerita, dimulai seperti
ini.
Beberapa hari yang lalu ketika lebaran,
saya sekeluarga berkunjung ke rumah salah seorang saudara, lebih tepatnya
saudara ibu. Sebut saja namanya Bude Inem. Bude Inem ini emak-emak paling kece
badai yang pernah saya temui. Beliau udah bisa dikategorikan ‘tua’ tapi fisik
masih sekuat ‘baja’. Usia boleh lima puluhan, tapi semangat kayak anak usia lima
belasan, Gokil.
Ceritanya si bude Inem ini punya anak
yang seusia saya, atau bisa disebut sepupu saya. Sebut saja namanya Sukro *ini bukan nama salah satu produk kacang yang
mirip kepala orang plontos itu ya* saya jarang ngobrol dengan Sukro, ketemu
aja tahunan kayak gini. Yaah, sekedar tradisi unjung-unjung pas lebaran aja, selepas itu Nothing.
Jadi, kayak jauh banget gitu. Kayak
orang nggak pernah kenal, mukanya juga udah beda banget. Memang, saya kecil
dulu selalu bermain dengan Sukro. Tapi, semakin gede semakin jarang ketemu.
Ditambah Sukro ini pernah hijrah ke beberapa kota di Jawa Barat, jadi yah
ketemunya setahun sekali, itu pun kalau Sukro mudik ke Surabaya. Kalau enggak
yah, nggak ketemu. Bisa dua sampai tiga tahun baru bisa ngeliat batang idungnya
lagi. Sosial media pun nggak ketemu, entah karena udah terlanjur canggung atau
memang si Sukro ini tinggal di pedalaman desa terpencil, saya juga nggak ngerti
dan nggak mau cari ngerti.
Akhirnya, pertemuan tahunan itu hanya
untuk seperti ini:
1. Bersalaman
![]() | ||
| sumber gambar: klik disini |
2. Sedikit ngobrol dan tanya kabar
![]() | |||
| sumber gambar: klik disini |
3. Mencicipi kue nastar
![]() |
| sumber gambar: klik disini |
4. Berpamitan pulang
![]() |
| sumber gambar: klik disini |
***
Beda cerita dengan salah seorang teman
yang berkunjung ke rumah saya beberapa hari yang lalu, sebut saja namanya Sukri
*dia bukan kembaran Sukro, kok*
Sukri ini bisa dibilang teman dekat
saya. Dia sering main kerumah, sekedar numpang minum, makan, sampai boker di
tempat saya. Sukanya cerita apapun yang dia alami hari itu juga. Entah senang
atau duka, si Sukri ini nggak tanggung-tanggung cerita ke saya. Baik dan
buruknya dia, saya juga tahu. Kadang juga bosan, ceritanya si Sukri ya itu-itu
saja. Tak jarang saya mendengar ceritanya sampai ketiduran, dan ngiler.
Si Sukri ini sudah kayak keluarga, dia
dekat banget dengan saya dan keluarga, terutama ibu. Bahkan kalau satu bulan
aja si Sukri nggak nongol di depan pintu pagar, ibu pasti nanyain. Padahal,
sekalinya si Sukri main kerumah pasti udah ngabisin beras satu karung dan ikan
mujaer satu ember. Heran juga, padahal saya kenal Sukri baru beberapa tahun
saja. Tapi begitu dekat. Yah, mungkin karena Sukri orangnya supel, atau mungkin
sok kenal dan hmm apalah.. saya juga ndak ngerti.
***
Dari kedua cerita diatas bisa saya
simpulkan bahwa: orang yang seharusnya
dekat (saudara), satu darah, satu keluarga, tumbuh bersama dari kecil, dan
boker bersama dari kecil bisa aja jadi seseorang yang jauh. Seperti
kasus yang saya alami dengan Sukro, sepupu saya yang suka merantau kemana-mana,
akhirnya kami jadi jauh, nggak saling kenal, dan jarang ngobrol. Ini nggak
mustahil kalau suatu saat saya ketemu Sukro dijalan, dan akhirnya kami nggak
saling tegur sapa. Is’t right?
Dan sebaliknya bahwa: orang yang nggak pernah kita kenal
sebelumnya bisa aja jadi saudara kita. Ini dikarenakan seringnya kita
bertemu dan berkomunikasi. Seperti kasus saya dengan Sukri. Dulunya, Sukri
hanya orang asing yang nggak pernah saya kenal. Namun sekarang, saya jadi dekat
dengan Sukri dan sudah menganggapnya saudara sendiri. Tentu juga nggak menutup
kemungkinan, kalau apapun yang terjadi dengan saya, Sukri-lah orang pertama
yang mengetahuinya. Kalau saya kena musibah, orang yang pertama saya mintai
bantuan tentulah Sukri, dan kalaupun saya mendapat rejeki yang besar, tentulah
saya akan berbagi dengan Sukri.
Jadi intinya, komunikasi itu sangat
penting. Kasus yang saya alami masih bisa kok diperbaiki. Bagaimanapun juga,
Sukro adalah sepupu saya. Nggak peduli seberapa jauh jarak yang tidak
mempertemukan wajah kami, kami harus tetap berkomunikasi. Toh, sekarang jaman
udah maju. Sosial media apapun sudah ada. Mau sekedar chat, bisa. Mau bertatap
wajah lewat video, bisa. Nggak perlu lagi khawatir. Intinya, berani melawan
rasa canggung dan tetap berkomunikasi.
Nah, kalau kasus dengan Sukri. Ya, tentu
saja harus dipertahankan. Walaupun awalnya kita adalah dua orang asing nggak
saling kenal. Bagaimanapun juga, sesama manusia kita harus tetap menjalin
silaturahmi. Jadi seneng aja, nemu temen kayak Sukri, apa adanya banget. Suka
duka selalu berbagi. Jadi kayak nemu saudara baru gitu. Intinya ya nggak
ninggalin saudara yang lama. Bukankah, kita semua adalah saudara, kawan?
![]() |
| sumber gambar: klik disini |
***
Hmm, saya kira kasus yang saya alami
itu juga marak dialami banyak orang di sekitar kita. Coba saja kembali pikirkan
saudara dekat kita yang sudah merantau jauh demi sesuap nasi, cita-cita, atau
bahkan sekedar passion belaka. Tentu pertemuan kita hanya setahun sekali pas
lebaran aja, dan pasti rasanya canggung untuk ngobrol-ngobrol. Yah, memang
tidak semua orang mengalami kasus ini, tapi tentulah ada yang se-kasus dengan
saya.
Baiklah, ayo mulai sekarang kita
mempererat silaturahmi dengan saudara-saudara kita yang mungkin pernah kita
lupakan.
***
Sekian postingan saya yang amburadul
ini. Jika berkenan, sampaikan saran dan kritik di comment box (: Thank’s for
reading. See you on the next post. Bye bye *lambai-lambai tangan*
Wassalamu’alaikum wr.wb.
.jpg)


.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar