Assalamu’alaikum wr.wb.
Beberapa minggu yang lalu, saat masih
bulan Ramadhan, tepatnya pulang teraweh saya ketemu kawan lama. Sebut saja
namanya Asep.
Asep ini teman baik saya waktu kecil,
dulu waktu rumah saya masih gabung sama nenek kami suka mainan bareng,
bertengkar bareng, sampai mainan pertengkaran bareng.
Semenjak saya pindah dua belas tahun
yang lalu, saya jadi jarang main sama Asep. Yah, walaupun jarak rumah kita
nggak jauh-jauh amet, hanya terpaut dua gang dari kampung yang sama. Mungkin,
kita sama-sama sibuk. Kita sibuk menjalani syuting, syuting tentang kehidupan
dari skenario yang dituliskan Tuhan *asik* B)
Kebetulan waktu itu, kita teraweh di
tempat yang sama. Pulangnya bareng.
“Sep” sapa saya kala itu.
“oh, mbak intan” katanya menjawab. Asep
ini memang satu tahun lebih muda dari saya, mankanya dia panggil saya pake
sebutan ‘mbak’. Jadinya saya terdengar lebih tua, padahal... Iyah.
Kami ngobrol-ngorol sepanjang
perjalanan.
“mbak intan sekarang kuliah ya? Jurusan
apa?” kata Asep langsung melontarkan dua pertanyaan, membuat saya serasa di
interogasi oleh polisi, cepek.
“iya, jurusan pendidikan bahasa
inggris, Sep” jawab saya singkat dengan muka ketakutan, soalnya nada Asep
benar-benar seperti polisi menanyai pengguna jalan yang melanggar lampu merah.
“kamu sudah lulus ya?” kata saya
bertanya basa-basi, sedikit mencairkan suasana. Sedari tadi, kaki saya nggak
bisa gerak gegara Asep menyerbu saya dengan rentetan pertanyaannya itu.
“iya mbak”
“mau kuliah atau kerja?” saya tanya
seperti ini karena Asep sekolah di SMK, tentu saja sudah ada persiapan untuk
dunia kerja.
“masih bingung mbak, sekarang aku masih
magang soalnya”
“ooooo” saya hanya ber-‘ooo’ ria.
“loh mbak, kamu kan jurusan pendidikan
berarti itu nanti jadi guru ya?” katanya polos sekali.
“hehe iya InsyaAllah” kata saya sambil nyengir
kuda. Dalam hati saya pengennya sih bukan guru, tapi kalau itu nanti yang
terbaik kenapa tidak dijalani.
“mbak, kamu satu kampus sama mbak iis
ya?” kata Asep kepo. Saya sempet sebel, nih anak kampret banget, kenapa
mengintrogasi saya mulu.
Mbak iis adalah kakak senior saya, dia
memang satu kampus dengan saya. Cuman beda jurusan, dia jurusan PGSD
(pendidikan guru sekolah dasar).
Saya hanya mengangguk, bosan dengan
pertanyaan Asep. Tak berhenti sampai disitu, Asep kembali tanya saya.
“mbak iis itu jurusan apa mbak?”
“PGSD” jawab saya singkat, bosan bener
kenapa Asep tanya mulu kayak pembantu baru.
“apa itu mbak?” pertanyaan Asep semakin
menggila.
“pendidikan guru sekolah dasar, jadi
nanti mbak iis jadi guru sd” kata saya langsung menjelaskan, karena bisa
ditebak Asep bakalan tanya hal itu (lagi).
“iya mbak, sudah tahu” kata Asep dengan
entengnya.
Busyet nih anak, giliran diijawab
singkat, dia nanya-nanya mulu sampai ke akar-akarnya, giliran dijawab secara
detail dia udah tahu. Hufet. Saya merasa telah ditipu anak kecil. (untuk Asep:
sep, bersyukurlah, waktu itu bulan Ramadhan, kalau enggak udah tak telen idup-idup
kamu pakek pisang raja, fiuh)
“kuliah itu enak ya mbak? Aku kok jadi
takut?” kata Asep tiba-tiba, sambil nyerundul kepala saya.
“semua ada enak dan tidaknya” kata saya
sambil membalas nyerundul kepala Asep.
“aku jadi takut mbak. Berarti kamu
nanti kalau skripsi pake bahasa inggris ya mbak?” kata Asep khawatir dengan
masa depan saya.
“iya-lah, namanya juga pendidikan
bahasa inggris, Sep” kata saya sambil mengibaskan rukuh atasan ke belakang,
biar kayak super-man.
“aku penasaran sama kuliah mbak, tapi
aku juga takut. SMK aja udah nguras pikiran banget” kata Asep terdengar sok
ngenes, padahal dia masih bau kencur, temulawak, dan jahe.
“udahlah sep, jalani aja. aku sudah
milih kuliah, jadi ya jalani aja. toh, semuanya pasti ada suka dan dukanya.
Enjoy aja-lah” kata saya sok bijak, itung-itung didepan adik kelas, biar saya
terlihat sedikit lebih tua keren, gitu.
“iya mbak, sukses ya buat kuliahnya”
kata Asep mengakhiri telepon pembicaraan. Tak terasa kami sudah berada
diperempatan jalan, yang artinya harus berbeda jalan. Ah benar, kita udah
berbeda jalan, Sep :’)
“makasih sep, sukses juga buat sekolah
dan magangmu ya” kata saya sembari mengibaskan mukenah yang sempat tersampir ke
belakang mirip super-man itu.
Saya kemudian belok ke kanan,
melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Asep masih lurus, melanjutkan juga
pulang ke rumah bapaknya.
Selama perjalanan pulang saya berfikir.
Yah, saya bisa mikir loh.
Asep, siswa kelas tiga SMK yang masih
bingung mau masuk kuliah atau bekerja. Secara, sekarang dia sudah magang, dia
udah punya skill, dia sudah mumpuni untuk masuk dalam dunia kerja, tapi dia masih
bingung, dia takut tentang perkuliahan. Dia masing belum paham betul soal
perkuliahan, soal kepanjangan PGSD, soal bagaimana kuliah itu, apakah kuliah
sama dengan sekolah, apakah kuliah menakutkan, pemikirannya masih terbatas
ruang dan waktu.
Hhhh~ sama kayak saya dulu. Bingung,
puyeng, pusing, sakit kepala, demam, sampai diare. *maaf, nggak separah itu*
Dulu, pemikiran saya masih sempit soal
dunia perkuliahan (walaupun sekarang juga sama saja). Saya hanya tahu sekolah
dan sekolah. Dunia sekolah itu menyenangkan, tapi tanpa sadar itu membuat saya
terbelenggu di dalamnya. Saya terbiasa dengan kedisplinan waktu, yaaah,
walaupun saya juga tetep nggak bisa tepat waktu. Seperti berangkat sekolah
harus tepat waktu, masuk pukul 6.30 dan pulang pukul 3 sore. Melelahkan,
rutinitas yang membosankan. Semua bergantung pada guru, nilai jelek? Santai,
toh ada remidi, dan dijamin pasti lulus. Nggak pernah berpikir soal masa depan,
uang tinggal minta orang tua. Kewajiban hanya belajar (kalau ada ulangan).
(sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaTpD7JYvmIz16GNUOOiXELOprTO0QP99QbaetVj8yOyiJ1Jt3epInrt3799DqILIpZHZzaQmP0c0Btaj13ijwys8h35xpyaTaqnWI7ZlM4_r4RfXbYSqDL37PpeRp7tCAtvh5OykmjdDx/s1600/Anak+SMA+Vs+Kuliah4.bmp )
Sekarang, saya sudah kuliah. Tanggung
jawab kudu gede, ini bukan masalah usia, tapi hidup mandiri untuk masa depan
*ciyee, pesan moral* udah mulai mikir, tahun depan saya musti ngapain, lima
tahun kedepan saya harus jadi apa? Yah, dan teman-temannya. Saya jadi berpikir
lebih universal, nggak melulu soal pelajaran yang diberi guru. Saya musti cari
bahan sendiri, berani presentasi, dan nggak boleh kentut di depan umum.
Ah, melihat Asep saya jadi pengen guling-guling
belajar lagi. Belajar tentang apapun. Nggak melulu soal materi grammar atau
cara menyelesaikan soal kalkulus. Tapi, tentang segalanya, tentang dunia ini
dan orang-orang yang idup didalamnya. Tentang kreativitas orang-orang cerdas
diluar sana. Tentang bagaimana cara menjalani mimpi yang lebih baik dan indah
yang sudah terlukis jelas di jidat saya. Dengan iming-iming mumpung masih
mahasiswa, mumpung masih muda, mumpung masih punya banyak waktu untuk berkarya,
mumpung nggak terkekang, dan mumpung masih idup.
Hah, memang hidup seperti itu. Saya
memang belum melewati semuanya, masa depan masih panjang. Tapi saya yakin,
didepan sana, segala macam warna; mulai hitam, putih, me-ji-ku-hi-bi-ni-u telah
menunggu saya dalam menorehkan tinta terbaik untuk mewarnai hidup saya. Tinggal
bagaimana saya memilih warna-warna itu untuk merangkainya menjadi sebuah
goresan warna terindah dan berujung dengan lukisan yang menarik :’)
(sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/17/Warna.gif )
Hah, segitu aja. Sekian dari postingan
saya yang ngaco ini. Jika berkenan,
sampaikan kritik dan saran di comment box dibawah ini. Uwuwuw :3
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum wr.wb.

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar