Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut: Ketemu Kawan Lama

Sabtu, 02 Agustus 2014

Ketemu Kawan Lama


Assalamu’alaikum wr.wb.

Beberapa minggu yang lalu, saat masih bulan Ramadhan, tepatnya pulang teraweh saya ketemu kawan lama. Sebut saja namanya Asep.
Asep ini teman baik saya waktu kecil, dulu waktu rumah saya masih gabung sama nenek kami suka mainan bareng, bertengkar bareng, sampai mainan pertengkaran bareng.

Semenjak saya pindah dua belas tahun yang lalu, saya jadi jarang main sama Asep. Yah, walaupun jarak rumah kita nggak jauh-jauh amet, hanya terpaut dua gang dari kampung yang sama. Mungkin, kita sama-sama sibuk. Kita sibuk menjalani syuting, syuting tentang kehidupan dari skenario yang dituliskan Tuhan *asik* B)
Kebetulan waktu itu, kita teraweh di tempat yang sama. Pulangnya bareng.

“Sep” sapa saya kala itu.

“oh, mbak intan” katanya menjawab. Asep ini memang satu tahun lebih muda dari saya, mankanya dia panggil saya pake sebutan ‘mbak’. Jadinya saya terdengar lebih tua, padahal... Iyah.

Kami ngobrol-ngorol sepanjang perjalanan.

“mbak intan sekarang kuliah ya? Jurusan apa?” kata Asep langsung melontarkan dua pertanyaan, membuat saya serasa di interogasi oleh polisi, cepek.

“iya, jurusan pendidikan bahasa inggris, Sep” jawab saya singkat dengan muka ketakutan, soalnya nada Asep benar-benar seperti polisi menanyai pengguna jalan yang melanggar lampu merah.

“kamu sudah lulus ya?” kata saya bertanya basa-basi, sedikit mencairkan suasana. Sedari tadi, kaki saya nggak bisa gerak gegara Asep menyerbu saya dengan rentetan pertanyaannya itu.

“iya mbak”

“mau kuliah atau kerja?” saya tanya seperti ini karena Asep sekolah di SMK, tentu saja sudah ada persiapan untuk dunia kerja.

“masih bingung mbak, sekarang aku masih magang soalnya”

“ooooo” saya hanya ber-‘ooo’ ria.

“loh mbak, kamu kan jurusan pendidikan berarti itu nanti jadi guru ya?” katanya polos sekali.

“hehe iya InsyaAllah” kata saya sambil nyengir kuda. Dalam hati saya pengennya sih bukan guru, tapi kalau itu nanti yang terbaik kenapa tidak dijalani.

“mbak, kamu satu kampus sama mbak iis ya?” kata Asep kepo. Saya sempet sebel, nih anak kampret banget, kenapa mengintrogasi saya mulu. 

Mbak iis adalah kakak senior saya, dia memang satu kampus dengan saya. Cuman beda jurusan, dia jurusan PGSD (pendidikan guru sekolah dasar).

Saya hanya mengangguk, bosan dengan pertanyaan Asep. Tak berhenti sampai disitu, Asep kembali tanya saya.

“mbak iis itu jurusan apa mbak?”

“PGSD” jawab saya singkat, bosan bener kenapa Asep tanya mulu kayak pembantu baru.

“apa itu mbak?” pertanyaan Asep semakin menggila.

“pendidikan guru sekolah dasar, jadi nanti mbak iis jadi guru sd” kata saya langsung menjelaskan, karena bisa ditebak Asep bakalan tanya hal itu (lagi).

“iya mbak, sudah tahu” kata Asep dengan entengnya.

Busyet nih anak, giliran diijawab singkat, dia nanya-nanya mulu sampai ke akar-akarnya, giliran dijawab secara detail dia udah tahu. Hufet. Saya merasa telah ditipu anak kecil. (untuk Asep: sep, bersyukurlah, waktu itu bulan Ramadhan, kalau enggak udah tak telen idup-idup kamu pakek pisang raja, fiuh)

“kuliah itu enak ya mbak? Aku kok jadi takut?” kata Asep tiba-tiba, sambil nyerundul kepala saya.

“semua ada enak dan tidaknya” kata saya sambil membalas nyerundul kepala Asep.

“aku jadi takut mbak. Berarti kamu nanti kalau skripsi pake bahasa inggris ya mbak?” kata Asep khawatir dengan masa depan saya.

“iya-lah, namanya juga pendidikan bahasa inggris, Sep” kata saya sambil mengibaskan rukuh atasan ke belakang, biar kayak super-man.

“aku penasaran sama kuliah mbak, tapi aku juga takut. SMK aja udah nguras pikiran banget” kata Asep terdengar sok ngenes, padahal dia masih bau kencur, temulawak, dan jahe.

“udahlah sep, jalani aja. aku sudah milih kuliah, jadi ya jalani aja. toh, semuanya pasti ada suka dan dukanya. Enjoy aja-lah” kata saya sok bijak, itung-itung didepan adik kelas, biar saya terlihat sedikit lebih tua keren, gitu.

“iya mbak, sukses ya buat kuliahnya” kata Asep mengakhiri telepon pembicaraan. Tak terasa kami sudah berada diperempatan jalan, yang artinya harus berbeda jalan. Ah benar, kita udah berbeda jalan, Sep :’)

“makasih sep, sukses juga buat sekolah dan magangmu ya” kata saya sembari mengibaskan mukenah yang sempat tersampir ke belakang mirip super-man itu.

Saya kemudian belok ke kanan, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Asep masih lurus, melanjutkan juga pulang ke rumah bapaknya.

Selama perjalanan pulang saya berfikir. Yah, saya bisa mikir loh.
Asep, siswa kelas tiga SMK yang masih bingung mau masuk kuliah atau bekerja. Secara, sekarang dia sudah magang, dia udah punya skill, dia sudah mumpuni untuk masuk dalam dunia kerja, tapi dia masih bingung, dia takut tentang perkuliahan. Dia masing belum paham betul soal perkuliahan, soal kepanjangan PGSD, soal bagaimana kuliah itu, apakah kuliah sama dengan sekolah, apakah kuliah menakutkan, pemikirannya masih terbatas ruang dan waktu.
Hhhh~ sama kayak saya dulu. Bingung, puyeng, pusing, sakit kepala, demam, sampai diare. *maaf, nggak separah itu*

Dulu, pemikiran saya masih sempit soal dunia perkuliahan (walaupun sekarang juga sama saja). Saya hanya tahu sekolah dan sekolah. Dunia sekolah itu menyenangkan, tapi tanpa sadar itu membuat saya terbelenggu di dalamnya. Saya terbiasa dengan kedisplinan waktu, yaaah, walaupun saya juga tetep nggak bisa tepat waktu. Seperti berangkat sekolah harus tepat waktu, masuk pukul 6.30 dan pulang pukul 3 sore. Melelahkan, rutinitas yang membosankan. Semua bergantung pada guru, nilai jelek? Santai, toh ada remidi, dan dijamin pasti lulus. Nggak pernah berpikir soal masa depan, uang tinggal minta orang tua. Kewajiban hanya belajar (kalau ada ulangan).


(sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaTpD7JYvmIz16GNUOOiXELOprTO0QP99QbaetVj8yOyiJ1Jt3epInrt3799DqILIpZHZzaQmP0c0Btaj13ijwys8h35xpyaTaqnWI7ZlM4_r4RfXbYSqDL37PpeRp7tCAtvh5OykmjdDx/s1600/Anak+SMA+Vs+Kuliah4.bmp ) 

Sekarang, saya sudah kuliah. Tanggung jawab kudu gede, ini bukan masalah usia, tapi hidup mandiri untuk masa depan *ciyee, pesan moral* udah mulai mikir, tahun depan saya musti ngapain, lima tahun kedepan saya harus jadi apa? Yah, dan teman-temannya. Saya jadi berpikir lebih universal, nggak melulu soal pelajaran yang diberi guru. Saya musti cari bahan sendiri, berani presentasi, dan nggak boleh kentut di depan umum.

Ah, melihat Asep saya jadi pengen guling-guling belajar lagi. Belajar tentang apapun. Nggak melulu soal materi grammar atau cara menyelesaikan soal kalkulus. Tapi, tentang segalanya, tentang dunia ini dan orang-orang yang idup didalamnya. Tentang kreativitas orang-orang cerdas diluar sana. Tentang bagaimana cara menjalani mimpi yang lebih baik dan indah yang sudah terlukis jelas di jidat saya. Dengan iming-iming mumpung masih mahasiswa, mumpung masih muda, mumpung masih punya banyak waktu untuk berkarya, mumpung nggak terkekang, dan mumpung masih idup.

Hah, memang hidup seperti itu. Saya memang belum melewati semuanya, masa depan masih panjang. Tapi saya yakin, didepan sana, segala macam warna; mulai hitam, putih, me-ji-ku-hi-bi-ni-u telah menunggu saya dalam menorehkan tinta terbaik untuk mewarnai hidup saya. Tinggal bagaimana saya memilih warna-warna itu untuk merangkainya menjadi sebuah goresan warna terindah dan berujung dengan lukisan yang menarik :’)



(sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/17/Warna.gif )

Hah, segitu aja. Sekian dari postingan saya yang ngaco ini. Jika berkenan, sampaikan kritik dan saran di comment box dibawah ini. Uwuwuw :3

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar