Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut

Kamis, 14 Agustus 2014

Yang dekat terasa jauh, Yang jauh terasa dekat


  Assalamu’alaikum wr.wb
 
Hmm, hmm. Saya hadir lagi, mengganggu ketentraman jiwa kalian semua. Sekedar curhat dan menyampaikan apa-apa yang telah terjadi di lingkungan sekitar saya.

Sesuai judulnya, bisa ditebak saya akan berbicara tentang sebuah hubungan. Yang dekat terasa jauh, dan yang jauh terasa dekat. Ini teman bukan temannya LDR, loh. Benar-benar bukan.

Suatu ketika saya termenung dipojok kamar, membiarkan notebook acer menyala didepan saya, meraung-raung minta diperhatikan, dengan terpaksa saya menyentuh tiap tuts keyboard yang terlihat kotak-kotak, nampak sixpack *abaikan bagian ini*

Saya mulai bercerita, dimulai seperti ini.

Beberapa hari yang lalu ketika lebaran, saya sekeluarga berkunjung ke rumah salah seorang saudara, lebih tepatnya saudara ibu. Sebut saja namanya Bude Inem. Bude Inem ini emak-emak paling kece badai yang pernah saya temui. Beliau udah bisa dikategorikan ‘tua’ tapi fisik masih sekuat ‘baja’. Usia boleh lima puluhan, tapi semangat kayak anak usia lima belasan, Gokil.

Ceritanya si bude Inem ini punya anak yang seusia saya, atau bisa disebut sepupu saya. Sebut saja namanya Sukro *ini bukan nama salah satu produk kacang yang mirip kepala orang plontos itu ya* saya jarang ngobrol dengan Sukro, ketemu aja tahunan kayak gini. Yaah, sekedar tradisi unjung-unjung  pas lebaran aja, selepas itu Nothing.

Jadi, kayak jauh banget gitu. Kayak orang nggak pernah kenal, mukanya juga udah beda banget. Memang, saya kecil dulu selalu bermain dengan Sukro. Tapi, semakin gede semakin jarang ketemu. Ditambah Sukro ini pernah hijrah ke beberapa kota di Jawa Barat, jadi yah ketemunya setahun sekali, itu pun kalau Sukro mudik ke Surabaya. Kalau enggak yah, nggak ketemu. Bisa dua sampai tiga tahun baru bisa ngeliat batang idungnya lagi. Sosial media pun nggak ketemu, entah karena udah terlanjur canggung atau memang si Sukro ini tinggal di pedalaman desa terpencil, saya juga nggak ngerti dan nggak mau cari ngerti.

Akhirnya, pertemuan tahunan itu hanya untuk seperti ini:
1. Bersalaman
sumber gambar: klik disini

2. Sedikit ngobrol dan tanya kabar
sumber gambar: klik disini



3. Mencicipi kue nastar

sumber gambar: klik disini


4. Berpamitan pulang
sumber gambar: klik disini


***
Beda cerita dengan salah seorang teman yang berkunjung ke rumah saya beberapa hari yang lalu, sebut saja namanya Sukri *dia bukan kembaran Sukro, kok*

Sukri ini bisa dibilang teman dekat saya. Dia sering main kerumah, sekedar numpang minum, makan, sampai boker di tempat saya. Sukanya cerita apapun yang dia alami hari itu juga. Entah senang atau duka, si Sukri ini nggak tanggung-tanggung cerita ke saya. Baik dan buruknya dia, saya juga tahu. Kadang juga bosan, ceritanya si Sukri ya itu-itu saja. Tak jarang saya mendengar ceritanya sampai ketiduran, dan ngiler.
 
Si Sukri ini sudah kayak keluarga, dia dekat banget dengan saya dan keluarga, terutama ibu. Bahkan kalau satu bulan aja si Sukri nggak nongol di depan pintu pagar, ibu pasti nanyain. Padahal, sekalinya si Sukri main kerumah pasti udah ngabisin beras satu karung dan ikan mujaer satu ember. Heran juga, padahal saya kenal Sukri baru beberapa tahun saja. Tapi begitu dekat. Yah, mungkin karena Sukri orangnya supel, atau mungkin sok kenal dan hmm apalah.. saya juga ndak ngerti.
***
Dari kedua cerita diatas bisa saya simpulkan bahwa: orang yang seharusnya dekat (saudara), satu darah, satu keluarga, tumbuh bersama dari kecil, dan boker bersama dari kecil bisa aja jadi seseorang yang jauh. Seperti kasus yang saya alami dengan Sukro, sepupu saya yang suka merantau kemana-mana, akhirnya kami jadi jauh, nggak saling kenal, dan jarang ngobrol. Ini nggak mustahil kalau suatu saat saya ketemu Sukro dijalan, dan akhirnya kami nggak saling tegur sapa. Is’t right?

Dan sebaliknya bahwa: orang yang nggak pernah kita kenal sebelumnya bisa aja jadi saudara kita. Ini dikarenakan seringnya kita bertemu dan berkomunikasi. Seperti kasus saya dengan Sukri. Dulunya, Sukri hanya orang asing yang nggak pernah saya kenal. Namun sekarang, saya jadi dekat dengan Sukri dan sudah menganggapnya saudara sendiri. Tentu juga nggak menutup kemungkinan, kalau apapun yang terjadi dengan saya, Sukri-lah orang pertama yang mengetahuinya. Kalau saya kena musibah, orang yang pertama saya mintai bantuan tentulah Sukri, dan kalaupun saya mendapat rejeki yang besar, tentulah saya akan berbagi dengan Sukri.

Jadi intinya, komunikasi itu sangat penting. Kasus yang saya alami masih bisa kok diperbaiki. Bagaimanapun juga, Sukro adalah sepupu saya. Nggak peduli seberapa jauh jarak yang tidak mempertemukan wajah kami, kami harus tetap berkomunikasi. Toh, sekarang jaman udah maju. Sosial media apapun sudah ada. Mau sekedar chat, bisa. Mau bertatap wajah lewat video, bisa. Nggak perlu lagi khawatir. Intinya, berani melawan rasa canggung dan tetap berkomunikasi.

Nah, kalau kasus dengan Sukri. Ya, tentu saja harus dipertahankan. Walaupun awalnya kita adalah dua orang asing nggak saling kenal. Bagaimanapun juga, sesama manusia kita harus tetap menjalin silaturahmi. Jadi seneng aja, nemu temen kayak Sukri, apa adanya banget. Suka duka selalu berbagi. Jadi kayak nemu saudara baru gitu. Intinya ya nggak ninggalin saudara yang lama. Bukankah, kita semua adalah saudara, kawan?
sumber gambar: klik disini

***
Hmm, saya kira kasus yang saya alami itu juga marak dialami banyak orang di sekitar kita. Coba saja kembali pikirkan saudara dekat kita yang sudah merantau jauh demi sesuap nasi, cita-cita, atau bahkan sekedar passion belaka. Tentu pertemuan kita hanya setahun sekali pas lebaran aja, dan pasti rasanya canggung untuk ngobrol-ngobrol. Yah, memang tidak semua orang mengalami kasus ini, tapi tentulah ada yang se-kasus dengan saya.

Baiklah, ayo mulai sekarang kita mempererat silaturahmi dengan saudara-saudara kita yang mungkin pernah kita lupakan.
***
Sekian postingan saya yang amburadul ini. Jika berkenan, sampaikan saran dan kritik di comment box (: Thank’s for reading. See you on the next post. Bye bye *lambai-lambai tangan*

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Minggu, 10 Agustus 2014

Di Srondol Becak




Hmm hmm. Assalamu’alaikum.


Saya hadir lagi, biasaaaa mau curhat. Manusia kesepian yang nggak tahu musti ngapain lagi selain tengok-tengok blog dan oret-oret di dalamnya.


Saya mau cerita soal kejadian beberapa hari lalu yang sempat saya alami. Yah, jika bisa dikategorikan ini termasuk kejadian yang kampret banget. 

Kayak begini ceritanya: 

Beberapa hari yang lalu, saya berencana melancong bareng kawan jomblo, si Yus namanya. Kami berencana cari tempat-tempat buat nyalurin beban idup, eh bukan tapi nyalurin cita-cita terpendam.


Kami janjian pukul dua belas siang, dan tentu saja molor. Seperti slogan yang telah terpaten diatas jidat saya, “gak molor, gak keren” yah, semacam kolor gitu, kalau udah nggak molor berarti udah nggak keren. it’s right?


Seperti kebiasan lama, si Yus selalu on time. Nih anak emang jam dinding berjalan. Sukanya on time. Kalau saya, ya enggak-lah. Saya kan bukan jam dinding berjalan, saya sejenis mamalia ketjeh yang suka makan telor ceplok pakek kecap. Jadinya yah, suka molor-molor gitu, untung nggak pakek kolor yang kedodoran.


Singkat cerita, si Yus udah nyampek tepat pukul dua belas siang di tempat yang sebelumnya sudah kita tetapkan, tempat pameran mobil warna-warni alias terminal.


Sementara saya, masih ngendon di jamban sambil ngitungin ubin kamar mandi. Eh salah, enggak gitu ceritanya. Saya masih berkutik dengan jalan-jalan Surabaya yang membingungkan. Maklum-lah anak rumahan, jalan yang saya hapal cuman jalan menuju kamar mandi, jalan menuju pintu darurat belakang rumah, dan jalan menuju hatimu. #eeaaahhh.


Saya datang sekitar pukul setengah dua siang. Saya muter-muter itu terminal selama tiga kali, udah kayak obat-nyamuk bakar. Empat kali lagi saya muter, saya udah thawaf di terminal. Akhirnya saya menemukan juga batang idung si Yus, walaupun idung dia nggak mancung-mancung amat, toh saya bisa menemukannya. Itu semua terjadi karena saya peka *Uhuk*


Saya hampir saja mau belok nyusulin si Yus, tiba-tiba dari belakang melaju dengan kencangnya benda warna putih dengan emak-emak bohay duduk di depannya *Becak* dia tiba-tiba nyrundul saya yang lagi berhenti di samping jalan. Si emak-emak itu teriak kenceng pake banget, sepertinya ia baru aja nelen toak masjid.


Semriwinggggg......


*Brakk* *klontang* *kriekk* *bruukk* *prakk*


Saya jatuh nyungsep ke jalanan aspal, untung aja kali ini saya nggak mencium aspalnya. Tiba-tiba hening, saya sadar tapi nggak bisa inget apa-apa. Kenapa saya disini? Saya siapa? Ah, jalanan aspal itu menghilangkan pikiran saya karena saking kagetnya. Banyak orang cuman ngelihatin doang, hanya beberapa yang bantu saya dan tukang becak itu. Ini benar-benar kota metropolitan, tidak semua orang berhati baik.


Singkat cerita, saya bangun dari posisi nyungsep dan melihat beberapa bagian motor saya pecah. Iyah, pecahh. Padahal ini nggak lucu, tapi pecah gitu -_- *abaikan*


Sepersekian detik kemudian, saya bangun dan melihat kondisi casing motor saya. Pusing banget, bingung, kepala puyeng, migrain -_- yang terakhir Cuma bo’ong.

Saya bingung musti ngapain, saya duduk di trotoar jalan sambil usep-usep mata. Iyah, saya nangis di pojokan trotoar udah kayak gembel kehilangan anak.


Akhirnya saya manggil si Yus yang jaraknya beberapa ribu centimeter dari saya. 

Saya cerita padanya sambil nangis-nangis sesenggukkan (lagi). Iyah, saya nangis (lagi) dipojokkan trotoar. Bisa dibayangkan manusia sembilan belas tahun, mahasiswa yang udah mau semester tiga, dan seberat lebih dari setengah kwintal ini nangis sesenggukan di pojokkan trotoar. *emang trotoar ada pojokkannya?*


Si Yus pukpuk saya, dan akhirnya kami memutuskan pergi ke bengkel dan membetulkannya. Ternyata duitnya kurang, kampret mahal banget untuk ukuran kantong mahasiswa pengangguran, akhirnya nggak seratus persen di benerin, hanya beberapa saja, mencukupkan uang. Lumayan-lah masih bisa dibuat jalan sampai rumah.


Setelah kejadian naas itu, kami tetap melanjutkan rencana awal kami. Mencari korban untuk tempat pelampiasan bakat terpendam. Kira-kira empat tempat kami kunjungi hingga sekitar pukul lima sore dan kami memutuskan kembali kerumah.


Di jalan, saya sudah memikirkan resiko terbesar, dimarahin ayah. Yah, kuat-kuatin mental aja gitu.


Sampai akhirnya sampai dirumah dan benar saja.... Ayah TIDAK marah. *Horee* langsung kayang, joged fortune cookies ala jeketi48, sujud syukur, kayang sambil joged fortune cookies ala jeketi48 dan joged fortune cookies sambil sujud syukur -_-

Ayah malah pukpuk saya :’) ibu juga :’) embak belum datang ceritanya.


Kemudian embak datang, aku cerita lagi. ngenes lagi, nangis lagi.

Kata embak. (Ini di translate yah, soalnya embak ngomongnya pakek aksen Suroboyo asli)

“mankanya kalau di jalan ati-ati, kalau berhenti ati-ati, kalau mau berhenti lihat kondisi dan lingkungan, jangan yang sepi-sepi, kamu itu cewek kalau motormu diambil orang ya pasti kalah, di luar itu orangnya campur-campur, tidak semua orang baik”

Ah, betul banget :’)   
                                              

Dulu guru saya juga pernah bilang:

“dunia luar itu beda kayak sekolah, kalian sekolah masih bisa ada yang ngawasi, ada yang benerin kalau salah, ada yang melindungi, kalau diluar itu hukum rimba berlaku, yang kuat yang bertahan, bukan cuman fisik aja, mental dan semuanya”

Ah, memang betul.


Mungkin saya masih belum terlalu merasakan dunia luar. Ini pelajaran matematika.

“ketika diluar rumah tak ada satu manusia pun yang bisa diandalkan, ini urusan manusia dan Tuhan. Hanya bisa meminta bantuan Kepada-Nya”


Sekian, curhatan yang ngawur ini. Ambil yang baik-baik aja ya, yang nggak baik tolong dibenarkan haha. Kritik dan saran bisa disampaikan di comment box dibawah ini.


And the last for this post, I just wanna say thank you for reading.


Wassalamu’alaikum wr.wb.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Ketemu Kawan Lama


Assalamu’alaikum wr.wb.

Beberapa minggu yang lalu, saat masih bulan Ramadhan, tepatnya pulang teraweh saya ketemu kawan lama. Sebut saja namanya Asep.
Asep ini teman baik saya waktu kecil, dulu waktu rumah saya masih gabung sama nenek kami suka mainan bareng, bertengkar bareng, sampai mainan pertengkaran bareng.

Semenjak saya pindah dua belas tahun yang lalu, saya jadi jarang main sama Asep. Yah, walaupun jarak rumah kita nggak jauh-jauh amet, hanya terpaut dua gang dari kampung yang sama. Mungkin, kita sama-sama sibuk. Kita sibuk menjalani syuting, syuting tentang kehidupan dari skenario yang dituliskan Tuhan *asik* B)
Kebetulan waktu itu, kita teraweh di tempat yang sama. Pulangnya bareng.

“Sep” sapa saya kala itu.

“oh, mbak intan” katanya menjawab. Asep ini memang satu tahun lebih muda dari saya, mankanya dia panggil saya pake sebutan ‘mbak’. Jadinya saya terdengar lebih tua, padahal... Iyah.

Kami ngobrol-ngorol sepanjang perjalanan.

“mbak intan sekarang kuliah ya? Jurusan apa?” kata Asep langsung melontarkan dua pertanyaan, membuat saya serasa di interogasi oleh polisi, cepek.

“iya, jurusan pendidikan bahasa inggris, Sep” jawab saya singkat dengan muka ketakutan, soalnya nada Asep benar-benar seperti polisi menanyai pengguna jalan yang melanggar lampu merah.

“kamu sudah lulus ya?” kata saya bertanya basa-basi, sedikit mencairkan suasana. Sedari tadi, kaki saya nggak bisa gerak gegara Asep menyerbu saya dengan rentetan pertanyaannya itu.

“iya mbak”

“mau kuliah atau kerja?” saya tanya seperti ini karena Asep sekolah di SMK, tentu saja sudah ada persiapan untuk dunia kerja.

“masih bingung mbak, sekarang aku masih magang soalnya”

“ooooo” saya hanya ber-‘ooo’ ria.

“loh mbak, kamu kan jurusan pendidikan berarti itu nanti jadi guru ya?” katanya polos sekali.

“hehe iya InsyaAllah” kata saya sambil nyengir kuda. Dalam hati saya pengennya sih bukan guru, tapi kalau itu nanti yang terbaik kenapa tidak dijalani.

“mbak, kamu satu kampus sama mbak iis ya?” kata Asep kepo. Saya sempet sebel, nih anak kampret banget, kenapa mengintrogasi saya mulu. 

Mbak iis adalah kakak senior saya, dia memang satu kampus dengan saya. Cuman beda jurusan, dia jurusan PGSD (pendidikan guru sekolah dasar).

Saya hanya mengangguk, bosan dengan pertanyaan Asep. Tak berhenti sampai disitu, Asep kembali tanya saya.

“mbak iis itu jurusan apa mbak?”

“PGSD” jawab saya singkat, bosan bener kenapa Asep tanya mulu kayak pembantu baru.

“apa itu mbak?” pertanyaan Asep semakin menggila.

“pendidikan guru sekolah dasar, jadi nanti mbak iis jadi guru sd” kata saya langsung menjelaskan, karena bisa ditebak Asep bakalan tanya hal itu (lagi).

“iya mbak, sudah tahu” kata Asep dengan entengnya.

Busyet nih anak, giliran diijawab singkat, dia nanya-nanya mulu sampai ke akar-akarnya, giliran dijawab secara detail dia udah tahu. Hufet. Saya merasa telah ditipu anak kecil. (untuk Asep: sep, bersyukurlah, waktu itu bulan Ramadhan, kalau enggak udah tak telen idup-idup kamu pakek pisang raja, fiuh)

“kuliah itu enak ya mbak? Aku kok jadi takut?” kata Asep tiba-tiba, sambil nyerundul kepala saya.

“semua ada enak dan tidaknya” kata saya sambil membalas nyerundul kepala Asep.

“aku jadi takut mbak. Berarti kamu nanti kalau skripsi pake bahasa inggris ya mbak?” kata Asep khawatir dengan masa depan saya.

“iya-lah, namanya juga pendidikan bahasa inggris, Sep” kata saya sambil mengibaskan rukuh atasan ke belakang, biar kayak super-man.

“aku penasaran sama kuliah mbak, tapi aku juga takut. SMK aja udah nguras pikiran banget” kata Asep terdengar sok ngenes, padahal dia masih bau kencur, temulawak, dan jahe.

“udahlah sep, jalani aja. aku sudah milih kuliah, jadi ya jalani aja. toh, semuanya pasti ada suka dan dukanya. Enjoy aja-lah” kata saya sok bijak, itung-itung didepan adik kelas, biar saya terlihat sedikit lebih tua keren, gitu.

“iya mbak, sukses ya buat kuliahnya” kata Asep mengakhiri telepon pembicaraan. Tak terasa kami sudah berada diperempatan jalan, yang artinya harus berbeda jalan. Ah benar, kita udah berbeda jalan, Sep :’)

“makasih sep, sukses juga buat sekolah dan magangmu ya” kata saya sembari mengibaskan mukenah yang sempat tersampir ke belakang mirip super-man itu.

Saya kemudian belok ke kanan, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Asep masih lurus, melanjutkan juga pulang ke rumah bapaknya.

Selama perjalanan pulang saya berfikir. Yah, saya bisa mikir loh.
Asep, siswa kelas tiga SMK yang masih bingung mau masuk kuliah atau bekerja. Secara, sekarang dia sudah magang, dia udah punya skill, dia sudah mumpuni untuk masuk dalam dunia kerja, tapi dia masih bingung, dia takut tentang perkuliahan. Dia masing belum paham betul soal perkuliahan, soal kepanjangan PGSD, soal bagaimana kuliah itu, apakah kuliah sama dengan sekolah, apakah kuliah menakutkan, pemikirannya masih terbatas ruang dan waktu.
Hhhh~ sama kayak saya dulu. Bingung, puyeng, pusing, sakit kepala, demam, sampai diare. *maaf, nggak separah itu*

Dulu, pemikiran saya masih sempit soal dunia perkuliahan (walaupun sekarang juga sama saja). Saya hanya tahu sekolah dan sekolah. Dunia sekolah itu menyenangkan, tapi tanpa sadar itu membuat saya terbelenggu di dalamnya. Saya terbiasa dengan kedisplinan waktu, yaaah, walaupun saya juga tetep nggak bisa tepat waktu. Seperti berangkat sekolah harus tepat waktu, masuk pukul 6.30 dan pulang pukul 3 sore. Melelahkan, rutinitas yang membosankan. Semua bergantung pada guru, nilai jelek? Santai, toh ada remidi, dan dijamin pasti lulus. Nggak pernah berpikir soal masa depan, uang tinggal minta orang tua. Kewajiban hanya belajar (kalau ada ulangan).


(sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaTpD7JYvmIz16GNUOOiXELOprTO0QP99QbaetVj8yOyiJ1Jt3epInrt3799DqILIpZHZzaQmP0c0Btaj13ijwys8h35xpyaTaqnWI7ZlM4_r4RfXbYSqDL37PpeRp7tCAtvh5OykmjdDx/s1600/Anak+SMA+Vs+Kuliah4.bmp ) 

Sekarang, saya sudah kuliah. Tanggung jawab kudu gede, ini bukan masalah usia, tapi hidup mandiri untuk masa depan *ciyee, pesan moral* udah mulai mikir, tahun depan saya musti ngapain, lima tahun kedepan saya harus jadi apa? Yah, dan teman-temannya. Saya jadi berpikir lebih universal, nggak melulu soal pelajaran yang diberi guru. Saya musti cari bahan sendiri, berani presentasi, dan nggak boleh kentut di depan umum.

Ah, melihat Asep saya jadi pengen guling-guling belajar lagi. Belajar tentang apapun. Nggak melulu soal materi grammar atau cara menyelesaikan soal kalkulus. Tapi, tentang segalanya, tentang dunia ini dan orang-orang yang idup didalamnya. Tentang kreativitas orang-orang cerdas diluar sana. Tentang bagaimana cara menjalani mimpi yang lebih baik dan indah yang sudah terlukis jelas di jidat saya. Dengan iming-iming mumpung masih mahasiswa, mumpung masih muda, mumpung masih punya banyak waktu untuk berkarya, mumpung nggak terkekang, dan mumpung masih idup.

Hah, memang hidup seperti itu. Saya memang belum melewati semuanya, masa depan masih panjang. Tapi saya yakin, didepan sana, segala macam warna; mulai hitam, putih, me-ji-ku-hi-bi-ni-u telah menunggu saya dalam menorehkan tinta terbaik untuk mewarnai hidup saya. Tinggal bagaimana saya memilih warna-warna itu untuk merangkainya menjadi sebuah goresan warna terindah dan berujung dengan lukisan yang menarik :’)



(sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/17/Warna.gif )

Hah, segitu aja. Sekian dari postingan saya yang ngaco ini. Jika berkenan, sampaikan kritik dan saran di comment box dibawah ini. Uwuwuw :3

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum wr.wb.