Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut: Rindu

Kamis, 29 Januari 2015

Rindu


Secangkir kopi dengan kepulan asap putih diatasnya menari-nari didepanku. Tariannya seakan-akan memanggilku untuk menyeruput rasa manis bercampur pahitnya.

“biar kuminum, kau minum yang ini saja”

Tiba-tiba suara pria membuyarkan lamunanku. Pria bertubuh jangkung itu tiba-tiba mengambil kopi-ku dan menggantinya dengan segelas besar es teh manis.

“kopi terlalu pahit untukmu” katanya sembari menarik kursi dan duduk dihadapanku.

Aku masih membisu.

“sudah seratus hari, bukan?”

Aku hanya menghembuskan nafas panjang menandakan kata ‘ya’.

“jika aku bisa mewakili Reza untuk mengatakan sesuatu, pasti dia tidak ingin kau seperti ini”

“aku tidak butuh pendapatmu, pergilah” kataku dengan nada rendah, aku sama sekali tak bergairah untuk memarahinya.

***
          Sudah seratus hari sejak Reza, satu-satunya orang yang mencintaiku, mencampakkanku. Ia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Bahkan ia tak mengajakku ke surga bersamanya.

          Saat ini peringatan seratus hari kematiannya. Aku datang ke restaurant tempat kita bertemu pertama kali. Memori itu masih ada.

Lima tahun silam saat aku kabur dari rumah karena ayah dan ibu yang selalu bertengkar. Reza memberikanku segelas cokelat panas, dia bilang keadaan hatiku seperti cokelat panas itu, menggebu-gebu. Dia yang menghiburku, dia yang selalu memberikan candaan di setiap kesedianku, dia yang menghapus air mataku, dia.... dia melakukan segala hal bahagia dihidupku.

“kenapa kau tak segera pergi” kataku pada Vino, pria yang tiba-tiba muncul dan mengganti kopi pesananku dengan segelas besar es teh manis.

“aku tahu hatimu sedang kalut, hatimu sedang kesepian, tapi aku tak bisa membiarkan ragamu juga kesepian”

Aku hanya diam saja, sungguh tak berselera menanggapi omong kosong yang baru saja dilontarkan Vino.

“seratus hari, dua ratus hari, tiga ratus hari, satu tahun, seratus tahun. Semua kejadian akan berlalu”

 “kematian Reza sudah menjadi berita seratus hari yang lalu.. tahun depan, berita ini  akan menjadi berita tahun kemarin, dan seratus tahun kemudian, kejadian ini akan menjadi berita seratus tahun yang lalu” Vino menarik nafas panjang.

“dan kau akan lupa segalanya, kau hanya akan menyimpan Reza sebagai orang yang prenah mencintaimu... seratus tahun yang lalu”

“kau...” aku kesal dengan sikap Vino yang terkesan membuatku buru-buru melupakan Reza.

“kau boleh kesal padaku” katanya seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“pikirkan lagi kata-kataku saat kau tenang. Aku pergi, telfon aku jika kau membutuhkan bantuan” katanya sembari menepuk pelan bahuku dan segera berlalu.

Vino, diakah malaikatku? Satu-satunya orang yang peduli padaku selain Reza. Mungkinkah Vino adalah jelmaan Reza yang menyuruhku hidup lebih baik selekas kepergiannya?

Reza, aku merindukanmu.
sumber

***
Cerita ini diikutkan giveaway contest www.doddyrakhmat.com

3 komentar:

  1. meskipun kematian reza itu udah berita lama, tapi kalau sudah sayang ya sush deh.
    terkadang memang, rindu itu datang dengan siksaan :")

    BalasHapus