Secangkir
kopi dengan kepulan asap putih diatasnya menari-nari didepanku. Tariannya
seakan-akan memanggilku untuk menyeruput rasa manis bercampur pahitnya.
“biar
kuminum, kau minum yang ini saja”
Tiba-tiba
suara pria membuyarkan lamunanku. Pria bertubuh jangkung itu tiba-tiba
mengambil kopi-ku dan menggantinya dengan segelas besar es teh manis.
“kopi
terlalu pahit untukmu” katanya sembari menarik kursi dan duduk dihadapanku.
Aku
masih membisu.
“sudah
seratus hari, bukan?”
Aku
hanya menghembuskan nafas panjang menandakan kata ‘ya’.
“jika
aku bisa mewakili Reza untuk mengatakan sesuatu, pasti dia tidak ingin kau
seperti ini”
“aku
tidak butuh pendapatmu, pergilah” kataku dengan nada rendah, aku sama sekali
tak bergairah untuk memarahinya.
***
Sudah seratus hari sejak Reza,
satu-satunya orang yang mencintaiku, mencampakkanku. Ia pergi tanpa mengucapkan
selamat tinggal. Bahkan ia tak mengajakku ke surga bersamanya.
Saat ini peringatan seratus hari
kematiannya. Aku datang ke restaurant tempat kita bertemu pertama kali. Memori
itu masih ada.
Lima
tahun silam saat aku kabur dari rumah karena ayah dan ibu yang selalu
bertengkar. Reza memberikanku segelas cokelat panas, dia bilang keadaan hatiku
seperti cokelat panas itu, menggebu-gebu. Dia yang menghiburku, dia yang selalu
memberikan candaan di setiap kesedianku, dia yang menghapus air mataku, dia....
dia melakukan segala hal bahagia dihidupku.
“kenapa
kau tak segera pergi” kataku pada Vino, pria yang tiba-tiba muncul dan
mengganti kopi pesananku dengan segelas besar es teh manis.
“aku
tahu hatimu sedang kalut, hatimu sedang kesepian, tapi aku tak bisa membiarkan
ragamu juga kesepian”
Aku
hanya diam saja, sungguh tak berselera menanggapi omong kosong yang baru saja
dilontarkan Vino.
“seratus
hari, dua ratus hari, tiga ratus hari, satu tahun, seratus tahun. Semua
kejadian akan berlalu”
“kematian Reza sudah menjadi berita seratus
hari yang lalu.. tahun depan, berita ini
akan menjadi berita tahun kemarin, dan seratus tahun kemudian, kejadian
ini akan menjadi berita seratus tahun yang lalu” Vino menarik nafas panjang.
“dan
kau akan lupa segalanya, kau hanya akan menyimpan Reza sebagai orang yang
prenah mencintaimu... seratus tahun yang lalu”
“kau...”
aku kesal dengan sikap Vino yang terkesan membuatku buru-buru melupakan Reza.
“kau
boleh kesal padaku” katanya seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“pikirkan
lagi kata-kataku saat kau tenang. Aku pergi, telfon aku jika kau membutuhkan
bantuan” katanya sembari menepuk pelan bahuku dan segera berlalu.
Vino,
diakah malaikatku? Satu-satunya orang yang peduli padaku selain Reza.
Mungkinkah Vino adalah jelmaan Reza yang menyuruhku hidup lebih baik selekas
kepergiannya?
Reza,
aku merindukanmu.
![]() |
| sumber |
***
Cerita ini diikutkan giveaway contest www.doddyrakhmat.com


meskipun kematian reza itu udah berita lama, tapi kalau sudah sayang ya sush deh.
BalasHapusterkadang memang, rindu itu datang dengan siksaan :")
Nice 😍😍😍
BalasHapusNice 😍😍😍
BalasHapus