Nemo Wagging Tail Kisah Kusut Mahasiswa Acakadut: Juni 2014

Jumat, 20 Juni 2014

Audisi Dubber Dadakan


Halo, 

Kali ini postingan saya akan berisi tentang hal konyol yang satu bulan lalu saya lakukan bersama teman saya yang juga sama konyolnya. Dia yang punya akun twitter ini @gitakmomon. Yap, namanya gitak.

Langsung aja saya akan cerita pengalaman yang #nghhhh banget ini. *ehem.
Awal cerita berawal dari kabar-kabar yang berhembus dari makhluk ini à @YustinaDiana_ panggil aja yus atau diana *terserah, nggak penting juga. Dia salah satu  teman saya yang jomblo, pencari belahan jiwa yang terbuang  di Aussie, *eeehhh. Maap, yang terakhir salah ketik. Nih anak suka banget ikutan event-event konyol yang biasanya nongol di mading kampus. Suatu saat ia nemuin info tentang audisi dubber di salah satu stasiun kereta api *eh salah, maksudnya stasiun radio di Surabaya. Dia langsung aja ajak-ajak saya dan si gitak.

Dengan segala keribetan dari syarat-syarat pendafataran itu, kami berhasil terjang semuanya. Akhirnya kami berhasil mendaftar via e-mail. Kebetulan waktu itu audisi dilaksanakan dua hari, tanggal 22 dan 23 bulan ke lima. Setelah daftar mendaftar, si kampret diana ternyata nggak bisa ikut karena tanggal 22 dia ada mata kuliah yang nggak bisa ditinggal dan tanggal 23 ia ikut acara ldkmm. Ya, ldkmm itu semacam makanan cepat saji yang pedas dan sedikit manis -_- yaaaahh, enggaklah, ldkmm itu semacam diklatnya buat jadi anak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Entahlah, saya nggak tahu banyak soal itu, soalnya nggak penting juga, saya juga ndak ikut. Oke fix, akhirnya dia memutuskan tak ikut audisi dubber itu. *Huuuuuuuu

Akhirnya, yang jadi korban tetap saya dan gitak. Kami terlanjur mendaaftar via e-mail dan mendapat balasan dari sang operator. Jawaban intinya gini.. ehmm, audisi kami (saya dan gitak) terjadwal hari kedua, pas tanggal 23-nya. Si gitak bingung, soalnya tanggal 23 dia juga ikut ldkmm, sama kek diana. Tapi, anehnya si gitak ini ndak mau ambil resiko, dia nggak bisa ninggalin ldkmm, tapi dia juga ndak mau kalau ndak ikut audisi. Serakah banget kan? Itu sama aja kayak udah punya pacar, terus ada yang nembak terima lagi. Astaga, teman saya yang satu ini memang suangar.

Terus kami pun mulai mencari cara agar  si gitak tetap ikut audisi, entah di hari lain atau apapun itu. Lalu, sekali lagi saya menjadi korban. Saya disuruh sms embak-embak radio buat tukar hari; keliatan maksa gitu, masak kita yang audisi, kita juga yang tentuin jadwalnya. Serasa (sok) sibuk banget kan? Fiuhfiuh
Saya pun mulai sms mbak/mas radio dengan tujuan yang sama seperti yang direncanakan. Tiba-tiba saya dapat balasan dari radionya, dengan jawaban yang intinya boleh ganti hari asalkan tetap tanggal 22 dan 23, karena audisinya hanya dua hari itu. Dengan semangat yang menggebu-gebu dan (sedikit) memaksa, kami pun minta tukar tanggal 22 dan kebetulan pas hari kamis. Dan akhirnya berhasil.

Singkat cerita, kami langsung berangkat ketempat audisi setelah selesai mata kuliah terakhir. Tanpa persiapan apa-apa, kami langsung cuss aja ke TKP. Sekitar setengah tiga sore. Tapi, perjalanan kami terhambat oleh gerombolan manusia-manusia penghalang yang duduk-duduk di depan bangsal kampus. Eh, ternyata itu teman satu tim-nya gitak yang ikut ldkmm. Mereka musti ngomongin tim mereka buat persiapan ldkmm esok harinya. Alhasil deh, gitak kecantol. Lah, mau gimana, gitak adalah bagian dari mereka dan musti membantu mereka menyiapkan peralatan buat ldkmm besok. Serasa sibuk banget kan tuh anak. Sekali lagi, saya yang jadi korban -_- saya nungguin dia udah kayak nungguin kamu aja. Iyaaa, kamuuu (ala dodit) #korbanstandupcomedy.

Baiklah, saya nunggguin gitak sampai akhirnya gitak mintak  ijin ke teman-temannya buat cabut duluan. Akhirnyaaaaaa. *lap keringat

Kami cabut, tapi pas lewat di tengah-tengah gerombolan manusia-manusia penghalang yang katanya temannya gitak itu, tanpa sengaja seorang bapak-bapak tua menabrak saya dijalan yang sempit itu. Astaga, jadi korban lagi -_- bapak-bapak itu nyelonong aja, lah sayanya hampir jatuh dan hampir menginjak laptop milik salah satu manusia disana. Astaga, merasa bersalah banget, untung gak sampai keinjak. Huh, dasar bapak-bapak, tuwir. Untung bapak-bapak, dosen lagi. coba kalau enggak, wes tak sawat sepatu wes. Fiuh
 Dari situ perasaan saya mulai nggak enak. Ini audisi kayak nggak direstui banget. Tapi, saya tetap berangkat. Kali ini gitak yang bonceng,  untunglah nggak sampai kesasar. Meski begitu, kita sampai disana sekitar pukul empat, dan orang-orang yang ada disana sudaaaaaaaaaaah..... bejibun -_- saya sama gitak cuman melongo aja. Pasalnya, gitak juga ada janji ntar malem. Jadi kan kita nggak bisa lama-lama disini. Walau seperti itu, kita terobos aja. Lah wong gimana, udah nyebur kok, yaudah sekalian basah.

Kami mulai masuk dan menghampiri mbak-mbak registrasi. Kami daftar bla, bla, bla. Dan ternyata, gitak mendapat giliran nomor 72 dan saya 73 -_- Kami menunggu lamaaaaaaaa banget. Sampai-sampai itu radio udah kek rumah sendiri. Beneran dah, tempat radio itu sudah kayak rumah sendiri. Sampai kami sholat ashar dan maghrib disana, kencing disana, ambil minum sendiri disana, bahkan kentut dan ngupil disana. Untung aja banyak orang, coba kalau enggak, pasti udah tiduran disana -_-

ini nomer urut kami:


Kami menunggu giliran, dan ternyata nama kami dipanggil sekitar pukul tujuh malam. fiuhfiuhfiuh, padahal kami datang kesana waktu matahari masih ada, dan menunggu sampai matahari udah tenggelam. Gilak, udah kayak nungguin kamu aja ya, dari musim panas ke musim penghujan *lol* apa hubungannya.
Setelah merasa nomor urutan kami berdua dipanggil, kami pun masuk dalam sebuah ruangan yang lumayanlah. Kebetulan waktu itu masuknya keroyokan, langsung lima orang dalam satu kloter.
Jeng jeng, *ceritanya lagi masuk* Beeeh, hawanya langsung dingin seketika. Ya iyalah, wong ruangannya ber-AC -_- huuuu. Kami langsung diperkenankan duduk di sebuah kursi dan menunggu giliran maju satu persatu. Gilak, udah kayak audisi aidol aja. Tapi ini beda, jurinya lebih banyak. Kalau di aidol cuman tiga, disini berlima coy!! Tambah lagi beberapa kru yang nggak penting -_- kami duduk menunggu giliran. Manusia pertama yang maju adalah embak-embak ke-emasan. Iyah, lah wong cewek tapi gayanya cowok banget. Ternyata dia mahasiswa unesa. Tanda tanya besar, kenapa hidupku selalu dikelilingi mahasiswa unesa -_- giliran kedua gitak, dan disusul dengan saya digiliran ketiga.
Astaga, pas saya maju rasanyaaaaaa. Entahlah, speechless, ndredek, kaki goyang-goyang, tiba-tiba gak kepikiran apa-apa, memori otak hilang semua; termasuk memori masa lalu *asik, udah bisa move on*, tangan rasanya dingin udah kek hidup di kutub; padahal keluar negeri aja nggak pernah -_-
Konsentrasi udah hilang semua. Saya membaca asal-asalan; yang penting sesuai script, gaya bicara sebisanya; yang penting ngomong. Fiuhfiuhfiuh.
Setelah itu saya kembali duduk dan menunggu dua lagi manusia yang bakalan maju. Saya diam, termenung mendengarkan, tiba-tiba jantung saya udah nggak ndredek aja. Looossss, udah tenang lagi. Baru kepikiran, ini jantung kampret banget, tadi pas maju detaknya cepet banget, eh sekarang udah selesai tenang-tenang aja. Haaaa, kayaknya perlu kursus gerak jantung nih.

Nggak sampai disitu audisi yang membuat olahraga jantung saya itu, setelah kelima-limanya membacakan script satu persatu, kami disuruh juga bacain lagi. Kali ini spontanitas, langsung aja dari kelima orang tadi dibentuk dua kelompok dan masing-masing memperagakan peran yang dipilihkan panitia. Eebusyeeettt, saya pikir udah selese, lah kok tambah lagi. Dan sialnya lagi, episode kedua ini saya memerankan pak RT, yang sama sekali nggak sesuai dengan karakter saya. Duh, duh, duh bundooo, ampyuuuun. Bakalan malu-maluin dua kali nih.

Karena udah terlanjur disana, baiklah mau tak mau harus melakukan hal konyol satu ini.
Saya kembali maju dengan dua manusia lainnya, berperan jadi pak RT dan tentu saja kacau. Fiuhh, sudahlah, mungkin selekas ini saya akan membeli harga diri baru.

Setelah saya dan kelompok maju, giliran si gita dan partner-nya. Asikkk. Sudahlah, nggak perlu diceritakan, nggak penting juga -_- satu hal aja yang perlu kalian tahu, si gitak salah baca script, (www yang seharusnya dibaca triple double you, malah dibaca double triple you) we ka we ka we ka. Maap gitak, tapi aku bahagia haha.

Hah, sudahlah. Mungkin itu saja kisah konyol yang mungkin bisa saya tertawakan di masa depan.
Oh ya, lupa. Saya ngak sempet poto-poto disana. Soalnya, kata panitianya poto kita bakalan di update via twitter, tapi punya saya kok gak di mensyen-mensyen. Mungkin panitianya malu  -_-

Ini aja oleh-olehnya...
stiker pas audisi yang udah saya tempel di buku catatan -sebagai kenangan- haha
 
Terima kasih......

Wassalamu’alikum. :)

Sabtu, 14 Juni 2014

Seperti Rumah, gitu aja...


Aku adalah rumah bagimu. Aku akan melindungimu, dari ganasnya sinar mentari  yang akan mengubah pigmen kulit indahmu, mungkin juga akan melindungimu dari derasnya hujan yang akan datang malam ini. Aku diam, tak berani menuntut apapun darimu. Karena aku hanyalah rumah bagimu. Kau boleh pergi kemanapun yang mau. Kau boleh mengikuti arah kaki yang akan mengantarkanmu kemanapun. Karena aku tak berhak menahanmu. Aku bagaikan rumah, sebuah benda yang kau anggap mati dan sama sekali tidak berarti apapun untukmu. Saat kau pergi, aku hanya berharap kau akan kembali padaku dan tinggal disini bersamaku. Satu-satunya harapan yang kuharapkan dari Tuhan adalah kau dapat kembali lagi padaku dengan keadaan yang baik-baik saja. Aku adalah sebuah rumah bagimu. Kau bisa menumpahkan apapun perasaanmu padaku. Aku sangat senang saaat kau kembali padaku dengan keadaan wajah yang berseri dan penuh kegembiraan. Itu artinya hari ini kau mendapatkan kegembiraan. Namun aku juga sangat sedih jika kau kembali dengan keadaan sedih, apalagi bercampur tetesan air mata.

Sekali lagi kutegaskan padamu, aku adalah rumah bagimu. Kau boleh pergi kemanapun kau suka, tak peduli jarak yang kau ambil sangatlah jauh dariku. Kau boleh meninggalkanku untuk waktu yang lama, bahkan sampai aku harus rapuh termakan usia. Kau boleh meninggalkanku dan tinggal ditempat lain yang kau mau jika aku memang tidak memberikan rasa nyaman bagimu. Kau boleh lakukan itu semua. Namun, satu hal yang perlu kau tahu dan kau ingat. Aku adalah rumah bagimu. Aku akan selalu menantikan saat-saat kau kembali. Aku akan tetap disini sampai kau kembali padaku.

Aku adalah rumah bagimu. Dengan keyakinan itu, aku percaya bahwa kemanapun kau akan pergi, seberapa lama kau akan meninggalkanku, dan dimanapun kau akan tinggal, aku percaya suatu saat nanti kau akan kembali padaku, karena aku adalah rumah bagimu :’)

Ini adalah  coretan mahasiswi galau yang lagi nganggur :D
            Tulisan ini terinspirasi oleh drama korea naughty kiss ("menunggu seperti rumah") dan di kreasikan serta dijabarkan lebih panjang langsung oleh Intan Krusita Wati :)

(mungkin) gambarnya  akan seperti ini :')


Terima kasih sudah membaca...... *lambai-lambai tangan*

Rabu, 11 Juni 2014

Parade Budaya dan Bunga Surabaya Coyy!!


Assalamu’alaikum

*ciluk* Baah

     Halo, saya balik lagi mau cerita soal parade budaya dan bunga di Surabaya. Jadi cerita gini, #Ehem. Ini ceritanya sebenarnya udah lama, telat posting aja. Masih belum basi kok. Simak yaa.
    Awal cerita seperti ini, *jeng jeng* Di bulan Mei tepat tanggal ke empat ada parade budaya dan bunga yang digelar di Surabaya dalam rangka memperingati hari ulang tahun Surabaya. Keren yah? Keren yah? Nah, saya liat tuh acara yang kayak begituan. Semua itu berawal dari ajakan embak saya yang mau jalan-jalan ke suatu tempat. Nah, kebetulan waktu itu liat jalanan Surabaya macet banget. Usut punya usut sih ternyata ada parade itu. Akhirnya kecantol deh di salah satu kerumunan penonton yang mayoritas emak-emak.
     Saya sama embak nunggu parade berjalan itu di depan kantor DPRD Surabaya. Disana udah rame banget, kayak pasar ikan aja. Setelah memarkir motor di salah satu tempat yang direkomndasikan tukang parkir dadakan, langsung deh saya terjun dalam kerumunan penonton itu.
Dari kejauhan nampak mobil-mobil raksasa dengan hiasan bunga dimana-mana, *cling, sekilas jalanan Surabaya penuh dengan bunga kek di kuburan. Tiba-tiba langit menghitam, awan menggumpal, dan *byurr* turunlah hujan. Tapi hal itu tak membuat penonton kabur kalang kabut, karena pas hujan paradenya lagi lewat. Astaga, kelihatan bunganya pada seneng banget disiram air dari atas, lah sementara pengiringnya bedaknya pada luntur kenak air ujan. Nggak hanya itu, disana juga berjejer “cak dan ning” Surabaya, kasihan bedaknya “ning” pada luntur semua, kelihatan jeleknya deh, hihi. #becandakok mereka tetep cantik ;)

Semakin lama, hujan semakin deras. Saya panik lah setengah mati, mondar mandir kek orang hilang. Bukan tanpa alasan sih, saya takut aja kalau tiba-tiba jadi putri duyung disana. Terus jadi pusat perhatian orang-orang disana, dan  mereka nggak merhatiin paradenya lagi. haha, cuman becanda.
Selekas itu, saya dibuat galau aja, pengin ngiyup biar baju nggak basah, tapi parade lagi bagus-bagusnya. Bukan apa-apa sih ya, waktu itu saya lagi pake sepatu baru #Aseek. Takut aja sepatu barunya luntur terus jebol, maklum sepatu murahan -_- *oke,lupakan.
Akhirnya tetep bertahan diantaraa kerumunan penonton itu.

Semakin lama, semakin deras. Ada sih sebagian penonton yang bawa payung. Saya heran aja dari mana mereka dapat payung secepat itu, mungkinkah mereka membawa doraemon dan mengambil payung dalam kantongnya? Entahlah, saya rasa itu nggak penting.
Yang terpenting kali ini adalah bagaimana saya tetep melihat parade yang lagi berlangsung tanpa basah-basahan sama air ujan. Dan saya rasa saya tahu jawabannya, hehehe *senyum licik* yap! Demi bertahan hidup #cieleeh Saya akhirnya mepet-mepet sama orang-orang yang bawa payung besar. #Aseek udah pada tahu maksud saya belum? Yap! Saya deket-deket orang yang pakai payung dengan alasan bakal terlindungi juga. Lah gimana, satu orang bawa satu payung, sementara payungnya gede banget, dari pada tuh payung nyolok mata saya, ya mending saya manfaatin buat ngiyup toh? Bener kan? Cerdas kan saya? Kan ya? Kan ya? Dari situlah saya pisah sama embak, yah dengan modus yang sama embak juga nebeng-nebeng di payung orang. (ini adalah kakak-beradik yang cerdas)
Eits, tapi walaupun terkesan ‘mayak’, saya tetep punya attitude loh. Pas waktu itu ada emak-emak yan kurus banget, iya kurus pake banget, pendek pula *Astagfirullah gak bermaksud jahat ya Allah. Lah, emak-emak itu sama anaknya yang kecil-kecil. Tapi tiba-tiba anak-anaknya itu kabur entah kemana. Nah, kesempatan dong buat saya mripit-mripit ke payungnya. Seperti yang saya bilang diawal, saya tetep punya attitude. Saya bilang gini: permisi bu, numpang payung ya. Kata saya ramah waktu itu. Ibu tadi diem aja, antara kagak denger atau kagak suka. Entahlah, saya tetep aja nyempil di payungnya. Semakin lama hujan semakin deras, tiba-tiba ibu tadi semakin maju dan semakin maju. Kayaknya dia ngehindar dari saya, “astaga kampret ini orang” batin saya kesal. Akhirnya saya pergi dari payung itu, dasar emak-emak emang. Untung aja gak saya sumpehin payungnya terbang terus dia ikut melayang kek balon-balon peresmian -_- *nggak bermaksud jahat*
Akhirnya saya nyari korban baru. haha *senyum licik*. Saya nemu sepasang sejoli pakai jas hujan untuk menutupi kepalanya. “Assik” pikir saya kala itu. Coba-coba sok kenal sih, langsung aja saya bilang gini “permisi mbak, boleh numpang jas hujannya?” si embaknya diem aja, dia ngeliatin saya kayak gimanaaaa gitu. Feeling saya udah nggak enak, saya takut bakal nggak di bolehin. Langsung aja deh saya lontarkan perkataan kedua. “boleh ya mbak? Boleh ya?” kata saya kemudian, hehe terkesan sedikit memaksa sih. Biarin deh, malu juga sekali, yang penting nggak masuk angin karena keujanan, lagian nggak bakalan ketemu sama mbak itu lagi haha. “iya boleh,” dengan nada yang agak gimanaaa gitu, si embak ngijinin saya. *Assik* berhasil. Dan kalian tahu, apa perasaan saya saat berada di bawah jas hujan itu? gilak, untuk pertama kalinya, selama delapan belas saya hidup, saya merasa jadi orang ketiga. Bagaimana tidak, dua orang di sebelah saya ini lagi pacaran, eh saya malah dengan sok asiknya ‘nunut’ disana. Seakan-akan saya pengganggu waktu romantis mereka. Biarin dah, biar jadi pengalaman.
Biasanya orang pacaran itu yang dikenang adalah saat-saat bersama hujan. Misalnya: “kalau ujan gini, inget makan bakso dipinggir jalan sama kamu”, “kalau ujan gini, inget gimana kamu relain jas hujan buat aku dan kamu sendiri yang kehujanan”, “kalau ujan gini, inget saat kamu kehujanan ke rumahku Cuma buat minta maaf sambil bawa mawar merah”, “ kalau ujan gini, inget saat kita nungguin bis di halte bareng-bareng” , “kalau ujan gini, inget waktu bapak kamu jadi ojek payung” #Ngrrrrr *yang terakhir Cuma bo’ong*
Nah, untuk mas dan mbak yang saya tebengin payung itu, nanti pasti kenangannya kayak gini: kalau ujan gini, inget saat nonton parade bunga terus ada makhluk aneh yang nebeng jas hujan dan menganggu keromantisan kita. Hahahha biar kapok!
Oke, segitu aja post dari saya. Sebelum pamit, nih foto-foto pas parade budaya dan bunga kota Surabaya.





 
Terima kasih sudah membaca curhatan manusia nganggur yang satu ini. Blog post ini hanya untuk kepentingan oret-oret semata. Jika berkenan, sampaikan kritik dan saran di kotak komen dibawah ini.
Sekali lagi, terima kasih.

Wassalamu’alaikum.