Halo,
Kali ini postingan saya akan berisi tentang hal konyol
yang satu bulan lalu saya lakukan bersama teman saya yang juga sama konyolnya.
Dia yang punya akun twitter ini @gitakmomon. Yap, namanya gitak.
Langsung aja saya akan cerita pengalaman yang #nghhhh
banget ini. *ehem.
Awal cerita berawal dari kabar-kabar yang berhembus dari
makhluk ini à @YustinaDiana_
panggil aja yus atau diana *terserah, nggak penting juga. Dia salah satu teman saya yang jomblo, pencari belahan jiwa
yang terbuang di Aussie, *eeehhh. Maap,
yang terakhir salah ketik. Nih anak suka banget ikutan event-event konyol yang
biasanya nongol di mading kampus. Suatu saat ia nemuin info tentang audisi
dubber di salah satu stasiun kereta api *eh salah, maksudnya stasiun radio di
Surabaya. Dia langsung aja ajak-ajak saya dan si gitak.
Dengan segala keribetan dari syarat-syarat pendafataran
itu, kami berhasil terjang semuanya. Akhirnya kami berhasil mendaftar via
e-mail. Kebetulan waktu itu audisi dilaksanakan dua hari, tanggal 22 dan 23
bulan ke lima. Setelah daftar mendaftar, si kampret diana ternyata nggak bisa
ikut karena tanggal 22 dia ada mata kuliah yang nggak bisa ditinggal dan
tanggal 23 ia ikut acara ldkmm. Ya, ldkmm itu semacam makanan cepat saji yang
pedas dan sedikit manis -_- yaaaahh, enggaklah, ldkmm itu semacam diklatnya
buat jadi anak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Entahlah, saya nggak tahu
banyak soal itu, soalnya nggak penting juga, saya juga ndak ikut. Oke fix,
akhirnya dia memutuskan tak ikut audisi dubber itu. *Huuuuuuuu
Akhirnya, yang jadi korban tetap saya dan gitak. Kami
terlanjur mendaaftar via e-mail dan mendapat balasan dari sang operator. Jawaban
intinya gini.. ehmm, audisi kami (saya dan gitak) terjadwal hari kedua, pas
tanggal 23-nya. Si gitak bingung, soalnya tanggal 23 dia juga ikut ldkmm, sama
kek diana. Tapi, anehnya si gitak ini ndak mau ambil resiko, dia nggak bisa
ninggalin ldkmm, tapi dia juga ndak mau kalau ndak ikut audisi. Serakah banget
kan? Itu sama aja kayak udah punya pacar, terus ada yang nembak terima lagi.
Astaga, teman saya yang satu ini memang suangar.
Terus kami pun mulai mencari cara agar si gitak tetap ikut audisi, entah di hari
lain atau apapun itu. Lalu, sekali lagi saya menjadi korban. Saya disuruh sms embak-embak
radio buat tukar hari; keliatan maksa gitu, masak kita yang audisi, kita juga
yang tentuin jadwalnya. Serasa (sok) sibuk banget kan? Fiuhfiuh
Saya pun mulai sms mbak/mas radio dengan tujuan yang sama
seperti yang direncanakan. Tiba-tiba saya dapat balasan dari radionya, dengan
jawaban yang intinya boleh ganti hari asalkan tetap tanggal 22 dan 23, karena
audisinya hanya dua hari itu. Dengan semangat yang menggebu-gebu dan (sedikit)
memaksa, kami pun minta tukar tanggal 22 dan kebetulan pas hari kamis. Dan
akhirnya berhasil.
Singkat cerita, kami langsung berangkat ketempat audisi
setelah selesai mata kuliah terakhir. Tanpa persiapan apa-apa, kami langsung
cuss aja ke TKP. Sekitar setengah tiga sore. Tapi, perjalanan kami terhambat oleh
gerombolan manusia-manusia penghalang yang duduk-duduk di depan bangsal kampus.
Eh, ternyata itu teman satu tim-nya gitak yang ikut ldkmm. Mereka musti
ngomongin tim mereka buat persiapan ldkmm esok harinya. Alhasil deh, gitak kecantol.
Lah, mau gimana, gitak adalah bagian dari mereka dan musti membantu mereka
menyiapkan peralatan buat ldkmm besok. Serasa sibuk banget kan tuh anak. Sekali
lagi, saya yang jadi korban -_- saya nungguin dia udah kayak nungguin kamu aja.
Iyaaa, kamuuu (ala dodit) #korbanstandupcomedy.
Baiklah, saya nunggguin gitak sampai akhirnya gitak
mintak ijin ke teman-temannya buat cabut
duluan. Akhirnyaaaaaa. *lap keringat
Kami cabut, tapi pas lewat di tengah-tengah gerombolan
manusia-manusia penghalang yang katanya temannya gitak itu, tanpa sengaja
seorang bapak-bapak tua menabrak saya dijalan yang sempit itu. Astaga, jadi
korban lagi -_- bapak-bapak itu nyelonong aja, lah sayanya hampir jatuh dan
hampir menginjak laptop milik salah satu manusia disana. Astaga, merasa
bersalah banget, untung gak sampai keinjak. Huh, dasar bapak-bapak, tuwir. Untung
bapak-bapak, dosen lagi. coba kalau enggak, wes tak sawat sepatu wes. Fiuh
Dari situ perasaan
saya mulai nggak enak. Ini audisi kayak nggak direstui banget. Tapi, saya tetap
berangkat. Kali ini gitak yang bonceng,
untunglah nggak sampai kesasar. Meski begitu, kita sampai disana sekitar
pukul empat, dan orang-orang yang ada disana sudaaaaaaaaaaah..... bejibun -_-
saya sama gitak cuman melongo aja. Pasalnya, gitak juga ada janji ntar malem. Jadi
kan kita nggak bisa lama-lama disini. Walau seperti itu, kita terobos aja. Lah
wong gimana, udah nyebur kok, yaudah sekalian basah.
Kami mulai masuk dan menghampiri mbak-mbak registrasi.
Kami daftar bla, bla, bla. Dan ternyata, gitak mendapat giliran nomor 72 dan
saya 73 -_- Kami menunggu lamaaaaaaaa banget. Sampai-sampai itu radio udah kek
rumah sendiri. Beneran dah, tempat radio itu sudah kayak rumah sendiri. Sampai kami
sholat ashar dan maghrib disana, kencing disana, ambil minum sendiri disana,
bahkan kentut dan ngupil disana. Untung aja banyak orang, coba kalau enggak,
pasti udah tiduran disana -_-
ini nomer urut kami:
Kami menunggu giliran, dan ternyata nama kami dipanggil
sekitar pukul tujuh malam. fiuhfiuhfiuh, padahal kami datang kesana waktu
matahari masih ada, dan menunggu sampai matahari udah tenggelam. Gilak, udah kayak
nungguin kamu aja ya, dari musim panas ke musim penghujan *lol* apa
hubungannya.
Setelah merasa nomor urutan kami berdua dipanggil, kami
pun masuk dalam sebuah ruangan yang lumayanlah. Kebetulan waktu itu masuknya
keroyokan, langsung lima orang dalam satu kloter.
Jeng jeng, *ceritanya lagi masuk* Beeeh, hawanya langsung
dingin seketika. Ya iyalah, wong ruangannya ber-AC -_- huuuu. Kami langsung
diperkenankan duduk di sebuah kursi dan menunggu giliran maju satu persatu.
Gilak, udah kayak audisi aidol aja. Tapi ini beda, jurinya lebih banyak. Kalau
di aidol cuman tiga, disini berlima coy!! Tambah lagi beberapa kru yang nggak
penting -_- kami duduk menunggu giliran. Manusia pertama yang maju adalah embak-embak
ke-emasan. Iyah, lah wong cewek tapi gayanya cowok banget. Ternyata dia
mahasiswa unesa. Tanda tanya besar, kenapa hidupku selalu dikelilingi mahasiswa
unesa -_- giliran kedua gitak, dan disusul dengan saya digiliran ketiga.
Astaga, pas saya maju rasanyaaaaaa. Entahlah, speechless,
ndredek, kaki goyang-goyang, tiba-tiba gak kepikiran apa-apa, memori otak
hilang semua; termasuk memori masa lalu *asik, udah bisa move on*, tangan
rasanya dingin udah kek hidup di kutub; padahal keluar negeri aja nggak pernah
-_-
Konsentrasi udah hilang semua. Saya membaca asal-asalan;
yang penting sesuai script, gaya bicara sebisanya; yang penting ngomong.
Fiuhfiuhfiuh.
Setelah itu saya kembali duduk dan menunggu dua lagi
manusia yang bakalan maju. Saya diam, termenung mendengarkan, tiba-tiba jantung
saya udah nggak ndredek aja. Looossss, udah tenang lagi. Baru kepikiran, ini
jantung kampret banget, tadi pas maju detaknya cepet banget, eh sekarang udah
selesai tenang-tenang aja. Haaaa, kayaknya perlu kursus gerak jantung nih.
Nggak sampai disitu audisi yang membuat olahraga jantung
saya itu, setelah kelima-limanya membacakan script satu persatu, kami disuruh
juga bacain lagi. Kali ini spontanitas, langsung aja dari kelima orang tadi
dibentuk dua kelompok dan masing-masing memperagakan peran yang dipilihkan
panitia. Eebusyeeettt, saya pikir udah selese, lah kok tambah lagi. Dan sialnya
lagi, episode kedua ini saya memerankan pak RT, yang sama sekali nggak sesuai
dengan karakter saya. Duh, duh, duh bundooo, ampyuuuun. Bakalan malu-maluin dua
kali nih.
Karena udah terlanjur disana, baiklah mau tak mau harus
melakukan hal konyol satu ini.
Saya kembali maju dengan dua manusia lainnya, berperan
jadi pak RT dan tentu saja kacau. Fiuhh, sudahlah, mungkin selekas ini saya
akan membeli harga diri baru.
Setelah saya dan kelompok maju, giliran si gita dan
partner-nya. Asikkk. Sudahlah, nggak perlu diceritakan, nggak penting juga -_-
satu hal aja yang perlu kalian tahu, si gitak salah baca script, (www yang
seharusnya dibaca triple double you, malah dibaca double triple you) we ka we
ka we ka. Maap gitak, tapi aku bahagia haha.
Hah, sudahlah. Mungkin itu saja kisah konyol yang mungkin
bisa saya tertawakan di masa depan.
Oh ya, lupa. Saya ngak sempet poto-poto disana. Soalnya,
kata panitianya poto kita bakalan di update via twitter, tapi punya saya kok
gak di mensyen-mensyen. Mungkin panitianya malu
-_-
Ini aja oleh-olehnya...
stiker pas audisi yang udah saya tempel di buku catatan -sebagai kenangan- haha
Terima kasih......
Wassalamu’alikum. :)









